Sepuluh Ribu untuk Gerakan Pendidikan

Beberapa tahun lalu saat kembali ke Bonapasogit (kampung halaman) di Toba Samosir, saya melihat ada hal mendasar yang sangat berbeda antara kampung saya dengan Bandung, kota tempat saya dulu kuliah. Perbedaan itu tentang realitas pendidikan, di antaranya antusias atau semangat para pelajar untuk bersekolah, fasilitas sarana dan prasarana sekolah serta mutu para tenaga pendidik.

Misalkan di salah satu desa di Toba Samosir. Anak-anak berangkat ke sekolah dengan sebuah harapan masa depan yang gemilang tapi terbentur dengan kondisi sarana prasarana sekolah yang seadanya, tanpa ada kamar mandi, perpustakaan, atau kantor guru yang memadai. Setiap hari situasi itu mereka jalani dan sepertinya tidak lagi menjadi masalah karena sudah menyatu dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Ketika pulang sekolah, mereka harus juga turut membantu orang tua bekerja di sawah atau di ladang untuk menambah penghasilan membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Bandingkan dengan rata-rata siswa di perkotaan. Anak-anak sepulang sekolah dapat mengikuti les mata pelajaran, pengembangan minat bakat seperti les piano, gitar, menari, dll. Dengan kondisi seperti ini tentu ada perbedaan antara para pelajar di kota dan di desa.

Contoh konkretnya adalah Melinda. Dia anak pertama dari 2 bersaudara, adiknya masih kelas 1 SD. Keluarganya pindah dari Jakarta ke Toba Samosir karena tidak sanggup lagi hidup di kota. Ibunya dulu seorang pemulung sedangkan pekerjaan ayahnya serabutan. Saat ini ibunya bekerja sebagai penggarap sawah orang lain sedangkan ayahnya bekerja sebagai tukang kebun milik orang lain di dekat Danau Toba. Sepulang sekolah Melinda ikut membantu ibunya ke sawah atau terkadang menyelesaikan pekerjaan rumah.

Meilinda menerima beasiswa RUPSI. Sumber foto: Tim RUPSI

Suatu ketika guru Matematikanya pernah bertanya kepada Meilinda, “Kenapa PR Matematikamu belum selesai?” Kemudian Meilinda menjawab, “Lilin di rumah saya keburu habis, Bu”. Ibu Eva, gurunya, mengetahui bahwa Meilinda anak pintar namun sejak itu menyadari bahwa keluarga Meilinda kurang mampu dalam ekonomi. Meilinda selama ini belajar menggunakan lilin karena orangtuanya belum ada uang untuk memasang instalasi listrik di rumahnya.

Situasi-situasi di atas menjadi alasan pergolakan pikiran saya. Saya dan teman-teman mencoba berpikir bagaimana situasi ini berubah, sehingga kualitas pendidikan di kampung halaman bisa menjadi lebih baik. Kami saling bertukar gagasan tentang bagaimana bisa mengambil peran. Kemudian muncullah ide untuk membentuk sebuah komunitas dengan nama ‘RUPSI’ yang merupakan singkatan dari Receh Untuk Pendidikan Siswa Indonesia.

RUPSI hadir sebagai gerakan sosial kepedulian anak-anak bangsa untuk dunia pendidikan dengan cara membantu para pelajar mencapai impiannya. RUPSI memberikan beberapa fasilitas kepada anak-anak yang memiliki keterbatasan dalam hal dana atau ekonomi tapi memiliki kompetensi akademik yang bagus. Meilinda dengan kondisi keluarga yang kurang mampu, namun di sekolahnya dia bisa berprestasi menjadi Juara Umum. RUPSI hadir dengan memberi beasiswa berupa uang saku untuk membantu membeli keperluan sekolahnya. RUPSI juga memberikan buku-buku pelajaran penunjang akademiknya serta beberapa peralatan belajar lainnya.

Diskusi-program-RUPSI
Diskusi Tim RUPSI dengan sekolah siswa penerima beasiswa. Sumber foto: Tim RUPSI.

Contoh lain penerima beasiswa RUPSI adalah Roy Rajagukguk. Dia anak ketujuh dari 10  bersaudara. Anaknya pekerja keras dan terlihat periang. Menurut orang tua dan teman-temannya, Roy adalah anak yang rajin baik di sekolah maupun di gereja. Orang tuanya bercerita bahwa Roy tidak pernah diberi uang jajan karena kondisi keuangan yang sulit. “Hanya untuk menutupi kebutuhan/keperluan sekolahnya saja, kami orang tua juga harus berjuang,” kata ayahnya.

Orang tuanya bekerja sebagai petani dengan lahan yang tidak terlalu luas bahkan ayah atau ibunya lebih sering bekerja sebagai buruh tenaga upah di sawah orang lain. Penghasilan orang tuanya sekitar 1 juta. Saat saya ke rumahnya, saya hampir menangis. Rumahnya beralaskan tanah dan luasnya hanya sekitar 5×6 meter dan hanya 1 kamar.  Saat ini dia butuh biaya untuk pembayaran guru tenaga honorer di sekolahnya, juga biaya keperluan membeli peralatan pekerjaan tangan/ketrampilan ketika ada tugas-tugas dari sekolah. “Saya dapat beasiswa kan pak?” tanyanya ketika kami mengakhiri wawancara dengan dia dan orang tuanya.

Penerima-beasiswa-RUPSI
Tim RUPSI bersama penerima beasiswa SD. Sumber Foto: Tim Rupsi

Masih banyak anak yang memiliki kisah atau kondisi yang sama. Mereka terbatas dalam hal ekonomi tapi kaya dalam semangat juang untuk belajar. Inilah yang menjadi sasaran RUPSI sehingga kelak mereka dapat menggapai impiannya.

RUPSI sudah berjalan selama tiga tahun sejak tanggal 14 Februari 2012. Secara berkala RUPSI selalu memberikan beasiswa kepada siswa yang sudah dipilih dengan ketat sehingga tujuan beasiswanya tepat sasaran. Saat ini ada tujuh orang penerima beasiswa RUPSI dengan rincian tiga orang SD, tiga orang SMP dan satu orang SMA. RUPSI berkomitmen memberikan beasiswa kepada mereka hingga tamat pendidikan SMA.

Ke depan RUPSI ingin lebih banyak berkontribusi lagi. Namun dibutuhkan dukungan dari banyak pihak juga agar program ini dapat menjangkau banyak siswa. Ada dua target RUPSI ke depan, yaitu memberikan beasiswanya sampai tamat kuliah dan menambah jumlah penerima beasiswa.

Di tengah keterbatasan yang kami punya, kami ingin hadir dan berguna bagi kehidupan orang lain dengan cara menyisihkan sebagian penghasilan dan mendonasikannya ke rekening RUPSI. RUPSI juga mengajak rekan-rekan muda yang peduli akan nasib pendidikan anak bangsa untuk bisa terlibat dalam gerakan sosial ini. Rekan-rekan dapat menyisihkan dan mendonasikan sebesar Rp10.000,00 setiap bulannya ke rekening RUPSI. Donasi rekan-rekan itu sudah berarti dan berperan mewujudkan impian mereka yang terbatas.

Satu Orang, Sepuluh Ribu Rupiah, Satu Kali Sebulan” adalah donasi yang dilaksanakan oleh penggiat RUPSI. Konsep sederhana ini dirancang agar semua lapisan masyarakat dapat berbagi tanpa memperhatikan batasan ekonomi yang ada. Dengan donasi kita, harapannya para siswa dapat semakin merasakan nikmatnya pendidikan.

 

Yok bagikan!

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?