Semua Tempat adalah Sekolah, Semua Orang itu Guru

Jadi benar-benar gak ada pengalaman yang menarik?

Ya apa ya… ada sih mungkin tapi ya gak kuingat. Pasti ada tapi lupa aku hahaha..

Cita-cita Anda waktu masih kecil apa?

Waktu kecil aku pengen jadi tentara, tapi kemudian berubah waktu SMP.

Kemudian beralih …

Aku tertarik dengan sesuatu tentang sosiologi. Ketika SMA gak menarik. Aku malah ambil eksak, kelas A2. Namun jika bisa dianggap cita-cita, dari kecil aku pengen ke Jakarta dan ke luar negeri, sederhana. Dan sudah terwujud juga.

Sampai sekarang masih banyak saudara di sana?

Masih. Ayahku masih tinggal di sana, tulangku, pamanku masih, adikku. Aku dulu lama gak pulang, pernah 16 tahun gak pulang. Akhir-akhir ini saja aku sering pulang. Setelah ibu meninggal aku baru mendekatkan diri ke kampung.

Bicara tentang Sumatera Utara, apa yang menarik menurut Anda?

Nah itu, aku udah lama gak di Sumut, jadi kalau bicara tentang Sumut pun sebenarnya meraba-raba. Yang menarik dan nempel diingatanku hingga kini, gubernur-gebernurnya masuk penjara. Menarikkan? Gak kapok-kapok mereka. Hahahaha..

rahung-kutip-3

Tapi sebenarnya potensi apa yang bisa digali dari Sumut? Selain Danau Toba

Kalau bicara kampungku, ya aku boleh sombong. Mandailing itu termasuk daerah paling subur yang ada di Sumatera Utara. Kaya dalam segala hal. Sawah ada di mana-mana, hutan tropis ada di mana-mana. Setiap sungai-sungai yang menjadi sungai besar Batang Gadis, di hulu-hulu sungainya di pegunungan, penduduk  mendulang emas. Makanya Sumatera itu dikenal sebagai Swarnadwipa, pulau emas. Dan Mandailing kami kenal dengan tano sere, tanah emas. Jadi memang tanah Sumatera itu kaya terutama Mandailing. Hanya problemnya ketua semua, birokratnya banyak yang menjelma jadi mahluk unik: koruptor. Jadi kalau mau ditanya hal yang positif kubilang ya itu kampungku kaya tapi banyak orang miskin di sana. Coba cari deh data kekayaan alam Sumut, khususnya Mandailing. Luar biasa sebenarnya potensi daerah-daerah di Sumut. Bukan hanya Danau Toba yang tercemar limbah, penggundulan hutan dan keramba-keramba multinasional itu.

Daerah di Sumut yang suka Anda kunjungi selain kampung apa?

Aku jarang pulang. Jadi nggak ada. Paling ke Medan.

Atau destinasi tertentu yang Anda suka dan tertarik walaupun kalau pulang gak harus ke sana?

Medanlah. Cuma Medan yang ada di kepalaku. Medan menarik menurutku. Di samping kekacauan yang ditimbulkan oleh politisi-politisi itu. Kota Medan itu memiliki kekayaan kuliner yang tiada duanya di Indonesia. Tidak ada kota sekaya Medan untuk urusan kuliner. Makanan Minang paling enak gak ditemukan di Padang tapi di Medan. Sate padang paling enak di Medan. Mie aceh paling enak itu bukan di Meulaboh tapi di Medan. Mungkin di Indonesia saingannya hanya Pontianak dan Surabaya. Medan pengaruhnya kaya. Orang Batak juga bikin mie gomak bukan karena orang batak punya mie kan, itukan punya Cina. Makanan itu kan tidak melulu soal tradisi yang tidak bergerak tapi penuh dengan pengaruh. Mana ada mie gomak kalau tidak ada Cina di Siantar. Orang Batak kemudian bikin dengan racikan bumbu sendiri pakai andaliman itu juga.

Jadi apakah kuliner di Medan bisa jadi potensi untuk Sumut sendiri?

Oh iya, pasti. Kalau di Jakarta pengen cari makanan enak itu kamu ke Mabes (Mangga Besar), ke Pluit, kan penuh dengan makanan dari Medan atau Sumut juga itu.

Pandangan Anda tentang anak-anak asal Sumut yang katanya pintar tapi bila dibandingkan dengan daerah lain sepertinya masih agak ketinggalan?

Itulah mengapa Orang Batak suka merantau. Karena ekonomi itu tersentralisasi di Pulau Jawa. Ekonomi politik. Sumut itu kaya tapi gak bisa hidup mandiri makanya orang-orang dari kampung di Sumut pilih merantau karena uang menjadi faktor ekonomi yang utama. Sektor pertanian yang jadi tulang punggung masyarakat kita tidak bisa mensejahterakan penduduknya. Ketika dia merantau maka dia gak punya ikatan yang begitu kuat lagi dengan kampungnya. Mereka beranak pinak di rantau. Pulang hanya sesekali. Apalagi orang Mandailing ya, kalau Toba masih sedikit kuat karena ada perkumpulan marga-marga itu. Kalau orang Mandailing lebih individualis dia, lebih berpikir jauh. Gak terlalu ada yang mengikat. Apalagi jika mereka berjuang di rantau dan dianggap sukses di sana, semakin jauh itu jalan untuk pulang ke kampung. Karena orang Mandailing kalau merantau ya merantau. Kalau Toba itu masih ada ikatannya gitu. Misal dia berhasil, dia akan sekolahin ponakannya nanti lanjut ke saudaranya yang lain maka akan ada kesinambungan lagi. Tapi akibat dari itu nepotisme pun besar sekali. Mandailing tidak sekuat itu lagi solidaritasnya. Semakin individualis. Jadi memang ada kekurangan dan kelebihannya.

Anda pernah tinggal di berbagai daerah. Di mana saja?

Pernah tinggal di Timor Leste enam tahun. Kegiatannya macam-macam di sana belajar bahasa dan budaya lokal, bikin project dengan organisasi akar rumput, cari tahu bumbu-bumbu dan masakan di sana dan belajar menulis dan membuat video. Aku sekolah di sana istilahnya. Bali dan Jakarta juga. Pernah di Australia satu tahun lebih. Ke daerah-daaerah lain di Indonesia sudah banyak juga tapi paling stay gak terlalu lama juga.

Dari semua lokasi di Indonesia yang sudah Anda jalani. Sangat tertarik daerah mana?

Aku suka Banda Neira. Udah tiga kali di sana. Aku suka ke sana karena kalau gak ada Banda Neira gak ada Indonesia. Ya Portugis, Spanyol, Belanda datang ke Nusantara ya untuk mencari cengkeh rempah dan pala ke sana. Kantor dagang VOC pertamakan di sana. Dan Jean Pieterszoon Coen, mencengkram Banda dengan pembantaian bengis penduduk Banda, itulah era kelam dimulainya pendudukan kolonial Belanda.

Yok bagikan!
Odelia Sinaga
About Odelia Sinaga 3 Articles
Odelia Sinaga lahir di Medan dan besar di Balige, Sumatera Utara. Merantau ke Jawa untuk mengejar mimpinya menjadi jurnalis. Pernah bertualang ke Sangihe dan menoreh sejarah di Tempo. Kini sedang bersiap untuk melangkah lebih jauh.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?