Semua Tempat adalah Sekolah, Semua Orang itu Guru

Jadi boleh dikatakan belajar masakan secara otodidak?

Iya aku belajar masakan secara otodidak. Belajar menginovasi masakan Nusantara sambil terus mengeksplorasinya. Makanya kubilang makanan itu gak berkembang kalau gak diberikan sentuhan inovasi. Dulu aja ompung (panggilan kakek/nenek dalam Bahasa Batak) kita yang tinggal di pegunungan memasak hanya memakai bumbu yang sederhana bahkan ada masanya mereka belum memasak menggunakan garam. Sumber utama garam berasal dari dari laut, sedangkan hidup orang Batak itu berada di pegunungan. Tapi sekarang mana ada orang yang kalau masak gak pakai garam. Nah itu hasil eksplorasikan? Kalau gak ada eksplorasi gak akan mungkin tercipta satu tradisi yang kini kita kenal sebagai masakan Batak yang memiliki citarasa utama pedas, asam dan asin. Kini garam menjadi elemen utama dalam masakan Batak. Sama juga dengan cabe yang berasal Amerika Selatan, Meksiko. Tapi akhirnya menjadi bumbu utama dalam masakan Asia. Coba, orang Indonesia mana bisa hidup tanpa cabe? Jadi makanan itu sebagai tradisi merupakan sesuatu yang terus bergerak.

Tradisi yang melahirkan budaya suatu masyarakat itu bukan batu yang diam, atau patung-patung yang disembah opung-opung kita pada masa silam. Budaya bergerak terus. Nah dalam pergerakannya inilah terjadi berbagai inovasi, temuan-temuan baru. Sekarang, kalau kita memperlakukan masakan kita dengan pakem-pakem yang ketat tanpa melibatkan ilmu pengetahuan dan mengembangkan tehnik memasak dan seni penyajian, menurutku ya ya bakal gitu-gitu aja. Makanan barat kan menjadi modern juga karena ada inovasi di sana, ada karang-mengarang. Makanan barat juga lahir dari tradisi -yang di negeri kita ini sering kali salah kaprah yang selalu dimaknai dengan sesuatu yang “kolot”- Sayang masakan Indonesia belum seberani makanan barat kalau untuk urusan inovasi karena wawasan para pelaku kuliner kita yang terbatas dan juga karena belum tersedianya akademi-akademi kuliner Nusantara sebagai laboratorium pengetahuannya.

rahung-kutip-1

Boleh dikatakan Anda suka masak karena suka masakan ibu Anda? Ibu Anda pintar masak?

Aku pikir setiap ibu di kampung pasti pintar masak. Karena aku besar dari dapur ibuku, aku suka masakan ibuku. Masakan ibuku pasti enak. Tapi aku yakin setiap anak pasti membanggakan masakan ibunya. Karena kita besar dengan lidah itu, kita terbentuk dengan cita rasa dapur ibu kita. Setiap anak pasti membanggakan masakan ibunya.

Makanan favorit dari masakan ibu Anda apa?

Sambal borsang

Sambal borsang itu …

Borsang itu ampas kelapa. Kelapa yang diperas sari patinya, di Mandailing dan Angkola ampasnya namanya borsang. Namun sambal borsang adalah kelapa yang dikukur, kemudian diulek dengan kunyit, cabe dan ditambahkan bumbu lainnya, dimasak dengan ikan, seperti ikan kembung, dengan jengkol, udang atau bahkan petai. Dimasak hingga kering… waduhh…. Warnanya nanti kuning karena pakai kunyit. Kalau orang Mandailing sama Angola tau pasti sambal borsang.

Bicara tentang masakan ibu. Masa kecil Anda seperti apa?

Aku lahir di Mandailing dan besar di rantau. Rantau yang jauh dari kampung halaman itu yang bikin aku suka kangen masakan ibuku. SD aku sama orang tua, SMP aku di kabupaten di Sidempuan, kos. Kami masak sendiri dengan abang-abang dari kampung yang biasanya mereka melanjutkan sekolah menengah atas ke kabupaten. Pulang kadang sekali dua minggu, bawa bekal dari kampung seperti beras, ikan asap, ya macam anak kosan jaman itulah. Kan kalau dulu kos gak bisa makan di warung karena mahal, jadi ya harus bisa masak. Ya masak itu jadinya kebiasaan. SMA aku di Jogja dan kebetulan tinggal sama mahasiswa-mahasiswa dari daerah yang juga suka memasak. Kebiasaan itu terbawa-bawa. Aku sampai SMA saja, dan gak melanjutkan kuliah. Aku sebenarnya gak suka dengan sekolah formal, aku lebih suka jalan-jalan. Dan saat itupun masuk kampus negeri gagal. Masuk kampus swasta mahalnya minta ampun.

Kalau kampung di mana?

Kampungku di Tapanuli Selatan, Desa Sayurmatinggi, Batang Angkola. Dulu merupakan daerah perbatasan wilayah Mandailing, di arah utara termasuk wilayah Angkola.

Masa kecil Anda yang menarik waktu di kampung adakah?

Dulu ya suka main di sawah tapi sekarang udah gak ada tradisi lagi bermain-main di sawah. Di Mandailing kami ada budaya marsialapari. Marsialapari itu tradisi gotong-royong di sawah atau kebun. Kalau sekarang kan gak ada itu. Panen ya panen saja sekarang. Semua orang sekarang dibayar kalau bekerja di sawah. Kalau punya duit, bisa bayar orang untuk membajak, menanam dan memanen. Gak ada lagi yang nginep di sawah beramai-ramai saat musim panen. Orang-orang tua gotong royong, anak-anak ikut membantu, makan masakan-masakan enak, menangkap belalang, mengeringkan parit sawah dan memanen ikan. Udah bedalah sekarang ini.

rahung-kutip-2

Waktu sekolah guru favorit Anda seperti apa?

Gak ada. Dulu aku gak suka sekolah.

Pengalaman selama sekolah dulu ada yang menarik?

Buruk. Gak ada pengalaman yang menarik kayanya. Mungkin karena di kampung ya, anak-anak  guru yang bodoh pun bisa dapat juara. Jadi gak menyenangkan dulu. SD guru-guru suka main kasar. Tampar, pukul dan pilih kasih. SMP dan SMA juga, aku bandel dulu, suka bolos. Karena aku gak tertarik dulu sekolah. Aku gak tertarik sekolah dalam bentuk formal, aku lebih suka belajar sendiri. Gak ada yang menyenangkan di sekolah bagiku. Aku suka melihat dunia lain, bepergian jauh dan bebas. Keingintahuan itu kuat dan besar sekali makanya aku suka bertualang, suka merantau.

Yok bagikan!
Odelia Sinaga
About Odelia Sinaga 3 Articles
Odelia Sinaga lahir di Medan dan besar di Balige, Sumatera Utara. Merantau ke Jawa untuk mengejar mimpinya menjadi jurnalis. Pernah bertualang ke Sangihe dan menoreh sejarah di Tempo. Kini sedang bersiap untuk melangkah lebih jauh.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?