Pustaka di Kampung Jala

Bagan tak cuma pangkalan para nelayan. Ada tempat hidup dan bermain. Lalu buku-buku  mengambil peran untuk  menerbitkan harapan.

Waktu belum menunjukkan pukul sembilan pagi. Deru mesin perahu masih sering terdengar, membawa kabar kembalinya para penjala. Sekumpulan penjual makin berlekas menyusun kulakan. Udang, cumi dan kerang berdesakan di terpal-terpal yang digelar seadanya. Sementara pada meja keramik  berbanjar yang memenuhi tempat itu, ikan besar kecil dalam berbagai jenis terbaring menanti pembeli.

Suasana di kawasan pelelangan ikan ramai seperti biasa. Masyarakat setempat biasa menyebutnya Bagan, sebuah ruang semi terbuka yang berdiri persis di pinggir muara. Ia berada di ujung Desa Percut, pesisir Kabupaten Deli Serdang, bersisian dengan Selat Malaka. Tempat ini merupakan perhentian pertama pemasaran segala hasil laut.

Banyak orang Medan datang ke sini. Jaraknya tak terlalu jauh, sekitar satu jam perjalanan darat dari ibu kota provinsi. Mereka datang memburu hasil tangkapan baru atau sekadar  menikmati ikan segar di warung lokal dengan hiburan organ tunggal.

Bagi warga tempatan, Bagan adalah salah satu sumber pendapatan. Orang dewasa hingga anak-anak yang masih berusia sekolah berperan serta. Mereka berkelompok di salah satu sudut yang paling sepi.

Hendri salah satu yang ada di situ. Berkaus liris-liris kuning dan celana pendek merah. Eki, ia menyebut dirinya, mendapat uang dari upah menjajakan dagangan milik orang lain. Sekilo cumi atau udang biasa diletakkan dalam keranjang kecil untuk ditawarkan pada orang-orang yang bertandang.

“Bu, mau udangnya bu? 35 ribu baru datang baru masuk bu. Kadang gitu. 20 lah katanya. Ditawar harganya sama si pembeli,” cerita Eki.

Kadang-kadang Eki pun ikut mengangkat hasil laut dari perahu ke lapak dagang. Ia juga piawai mencuci dan membersihkan sisik ikan. Anak-anak ini bak tangan kanan para peniaga di sana. Ayah Eki seorang nelayan dan ibunya pencari kerang. Pekerjaan di laut menghabiskan seharian waktu mereka. Pendidikan anak belum menjadi prioritas.

  “Ibu tak tentu. Orang ibu tak di rumah selalu. Saat pulang sekolah dia, kadang ibu tak di rumah. Ibu ke laut,” tutur Zuleha, orang tua Eki.

Abdul lain lagi. Dari mencuci perahu dan membuang sampah, ia sering mendapat ikan sebagai bayaran. Tugasnya akan beralih ke atas perahu saat akhir pekan. Ia menjadi asisten juru kemudi, membawa wisatawan lokal menikmati muara dengan perahu motor. Abdul tidak sekolah lagi. Ia menghabiskan hari-harinya di Bagan setelah tak naik kelas saat menuju kelas enam.  Pilihannya mendapat dukungan dari orang tua.

“Mamak saya gak suruh sekolah lagi. Disuruhnya aja saya cari duit. Uangnya untuk beli beras, belanja.”ujar dia.

1
Kegiatan belajar di pesisir. Sumber foto: dokumentasi Rumah Bakau.

Situasi ini membuat gundah Ismail. Satu dari sedikit orang Percut yang telah menempuh pendidikan tinggi. Ia menyelesaikan pendidikan Master Komunikasi Lingkungan dari University of Texas, AS. Pada 8 Juli 2012 Rumah Baca Bakau berdiri. Sebuah usaha untuk menyelamatkan adik-adiknya dari belenggu kebodohan.

Sebuah rumah seluas 100 meter2 menjadi basis gerakan ini. Lokasinya hanya berjarak 100 meter dari pusat pelelangan ikan. Sekitar 3500 buku tersusun pada empat rak besar di dua ruang depan dan beberapa tumpukan di ruang tengah. Dua rak pertama, buku cerita anak dan komik mendominasi. Sementara dua rak lain dipenuhi buku-buku pengetahuan umum.

Berbagai buku ini didapat dari donasi para donatur. Ruangan pertama dikhususkan bagi anak-anak pra sekolah dan SD kelas kecil. Sedangkan ruangan sebelah untuk anak-anak yang lebih dewasa. Segala aktivitas bagi anak-anak, remaja, dan orang dewasa, dipusatkan di rumah itu. Sore sepulang sekolah, rumah itu mencapai puncak kemeriahannya.

Niat awalnya sederhana, buku-buku itu bisa menjadi penyemangat bagi anak-anak untuk belajar. Ismail saat itu mengajak Ina, seorang pemudi lokal yang tengah menggagas perpustakaan di rumahnya. Lewat Ina keterlibatan anak-anak muda kampung semakin dominan. Relawan pengajar, fasilitator pelatihan, hingga manajemen sehari-hari kini dikelola jaka dan dara dari selingkung Percut.

Kita ingin membangun kesadaran. Persoalan sosial di tempat hidup mereka, ya mereka lah yang harus menjadi ikon perubahannya,” tegas Ismail.

Nama Bakau dipilih karena tumbuhan ini adalah pelindung Percut dari abrasi air laut. Ia bagian dari identitas mereka. Mengenal dan menjaga lingkungan sendiri lalu menjadi fundamen yang diusung Rumah Baca.

Apalagi kini jumlahnya semakin berkurang. Dari sekitar 3000 hektar luas hutan bakau, kini hanya tersisa sekitar 500 hektar. Ketidaktahuan menjadi sebab masyarakat dengan mudahnya melepaskan hutan mangrove mereka. Para pengusaha dari kota mengubahnya menjadi tambak hingga kawasan perumahan.

Anak-anak lalu didekatkan dengan aset masa depan. Mereka belajar menanam dan melakukan pembibitan sendiri. Lebih dari 50 ribu bakau telah ditanam sejak tahun 2012.

Pemanfaatan bakau juga didorong pada orang tua mereka. Ibu-ibu itu dikumpulkan dalam kelompok usaha Mutiara Bahari. Mengolah berembang, buah yang tumbuh di kawasan bakau, menjadi sirop dan dan selai. Serta jeruju menjadi kerupuk bawang hingga cendol. Kelompok usaha ini dibina para relawan Rumah Baca. Anak-anak muda itu berburu ilmu bakau pada berbagai pelatihan. Ismail sangat getol menumbuhkan kesadaran warga.

Kalau mereka tidak peduli fungsi hutan itu untuk dipertahankan, otomatis masa depan akan terancam. Sekarang saja sudah terasa bagi mereka masa depan semakin sulit. Apalagi di masa akan datang.”

3a
Kegiatan belajar mengajar bersama relawan. Sumber foto: dokumentasi Rumah Bakau.

* * *

Membuka taman baca tak berhenti pada penyediaan pustaka. Menjaring pembaca merupakan tantangan selanjutnya. Belum lagi larangan orang tua pada anak-anak yang tinggal jauh dari Rumah Baca. Jemput bola mereka yakini sebagai satu-satunya cara meluaskan gapaian. Ide Taman Baca Keliling pun tercetus.

Ada banyak kampung yang berada di Muara Percut. Beberapa lokasi lebih mudah dijangkau lewat perairan. Ina dan para relawan lain lantas menggunakan perahu untuk membawa buku-buku.

Mereka membacakan cerita pada anak-anak, menjelaskan isi buku-buku yang sulit, serta membangun imajinasi anak-anak tentang tempat-tempat lain di muka bumi. Satu kali Ina cerita tentang simpanse, pada hari lain giliran kehidupan di gunung yang menjadi bahan kisahnya. Penjelasan isi buku yang menarik merangsang anak-anak membaca.

Semakin banyak kampung yang mereka datangi, makin banyak pula anak putus sekolah yang mereka dapati. Sore itu saat perahu sedang berlabuh di Dusun 16, Ina bertemu dengan seorang lagi anak yang putus sekolah di usia SD. Ina hanya bisa mendata identitas mereka. Merangkulnya ke Rumah Baca menjadi langkah awal, seraya mengusahakannya lanjut sekolah.

 * * * 

“Pak, ini Eki tidak sekolah ya? Sejak kapan?”

“Setahun lalu.”

“Kenapa dia tidak disekolahkan?”

“Sekolah yang lama gak ngasi izin lagi karena udah lewat enam bulan. Udah ada perjanjian sama orang itu. Kalau lewat berarti gak bisa lagi.”

“Saya jamin dia akan bisa sekolah lagi di sini tapi dengan perjanjian Bapak tidak boleh pindah-pindah.”

 

Itulah sepenggal pembicaraan Ina dengan orang tua Eki pada suatu malam. Keluarga Eki merupakan pindahan dari Tanjung Balai, kota di timur Sumatera yang lain. Mereka baru dua tahun menetap di Percut.

Eki pun sekolah lagi. SD Swasta Nurul Qomar mau menerimanya di kelas 5 walau tanpa rapor dan surat pindah dari sekolah lama. Orang tua Eki menyanggupi untuk membayar uang sekolah. Eki menemukan dunianya kembali.

“Di sekolah banyak teman. Kalau di sana (Bagan) jual ikan aja lah. Udah gitu suka ditokokin, suka ngejek nama ayah saya.”

Ada banyak yang sengaja memilih keluar dari sekolah. Merasa tak nyaman hingga tergoda dengan kebebasan dunia luar. Tapi bukan keinginan mereka terus berada di pelelangan. Bisa lanjut belajar tetap jadi impian.

Eki kini menjadi harapan keluarga setelah abangnya tak lagi terselamatkan dari balada putus sekolah. Intensitasnya di Bagan semakin berkurang. Siang sepulang sekolah, ia kerap hadir di Rumah Baca.

Ismail terus berikhtiar menyelamatkan masa depan kampung dan adik-adiknya. Lewat Pilar, NGO lokal yang ia kelola, Ismail menyiapkan beasiswa melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Dua orang kini tengah kuliah. Mereka sembari membagi ilmu bagi adik-adik di Taman Baca. Ada Ida yang mengisi Kelas Sains dan Maulida mengajar Kelas Menulis. Sementara para relawan SMA melatih Tari Melayu.

Pada 2014, Rumah Baca Bakau mendapat penghargaan TBM Kreatif dan Reaktif se-Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebuah dorongan bagi segala upaya untuk anak-anak Bagan. Sebab kita semua sadar, kerja masih jauh dari selesai.

4
Penulis bersama para relawan Rumah Baca Bakau. Sumber foto: dokumentasi Rumah Bakau.

Khairil Hanan Lubis

Suka makan dan jalan-jalan. Pencinta Kinantan sejak dalam pikiran.

More Posts

Yok bagikan!
About Khairil Hanan Lubis 3 Articles
Suka makan dan jalan-jalan. Pencinta Kinantan sejak dalam pikiran.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?