Perapung, Jembatan Cakrawala Anak Pesisir

Keingintahuan anak-anak Perapung. Foto: dokumentasi Perapung.

Buku itu adalah teman. Teman sejati yang setia. Teman yang banyak memberi namun tak pernah menuntut. Teman yang hebat, yang selalu tahu akan segala hal. Teman yang dapat membawaku pergi kemana pun kumau. Benar kata pepatah, buku adalah jendela dunia. Keyakinan ini yang membawaku terlibat dalam gerakan pendidikan.

Berawal dari rekreasi dengan keluarga di Kecamatan Medan Belawan, seorang seniorku menyampaikan idenya bagi pengembangan ilmu pengetahuan di sana. Ia melihat sebuah fenomena ketidakmerataan pendidikan di Kampung Nelayan.

Kampung itu berada di seberang pusat kecamatan atau biasa disebut Kota Belawan. Berdiri di atas kayu-kayu bakau sebagai fondasi, mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Kampung Nelayan terdiri atas empat kampung lagi dengan sebuah SD sebagai tumpuan pendidikan.

Sekolah yang berdindingkan kayu tersebut tidak seperti sekolah-sekolah yang ada di perkotaan, yang memiliki fasilitas seperti lapangan olahraga, lab komputer, perpustakaan dan sebagainya.  Hanya ruang kelas sebagai tempat belajar dan ruang guru. Jika ingin melanjutkan sekolah, mereka harus menyeberang ke kota.

Kondisi ini menggerakkan kami. Pada 26 Januari 2014, lima orang temanku mendirikan Perpustakaan Terapung di Kampung Karang Taruna, satu dari empat wilayah di Kampung Nelayan. Mereka adalah Irwan Saputra, Sidik Eka Hermawan, RA Wulaningtyas, Swarman Siahaan, dan Viatari Pencawan. Aku baru menyusul belakangan. Kami merupakan mahasiswa di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Negeri Medan. Aksi ini sekaligus sebagai upaya pengabdian masyarakat selaku mahasiswa.

img_3630

_mg_3827
Interaksi relawan bersama anak-anak. Foto: dokumentasi Perapung.

Perpustakaan Terapung (Perapung) adalah sebuah taman baca yang didirikan untuk menjadi sarana penunjang pendidikan bagi anak-anak di wilayah Kampung Nelayan. Tak hanya menyediakan buku-buku, Pengurus Perapung dan para relawan mengajar anak-anak itu secara reguler setiap hari Minggu.

Konsep belajar, bermain, memotivasi, dan pemberian penghargaan diterapkan untuk menarik perhatian mereka. Semangat belajar perlu terus ditumbuhkan agar kesempatan mereka untuk melanjutkan sekolah terus terbuka.

Kami pun tak main-main. Pada 11 Juni 2015, melalui SK Kemenkumham bernomor AHU-0008218.AH.01.04. Tahun 2015, Yayasan Bangun Bahari Resmi didirikan sebagai wadah kegiatan Perapung. Kegiatan di Kampung Nelayan pun meluas ke berbagai sisi seperti pembangunan perekonomian masyarakat, pelatihan bagi para nelayan, serta kegiatan sosial lainnya.

Kini Perapung telah berjalan hampir tiga tahun. Kerja bersama selama kurun waktu tersebut mulai membuahkan hasil. Beberapa anak makin menemukan potensinya.

 

_mg_1467
Seorang relawan sedang bermain dengan gadis cilik. Foto: dokumentasi Perapung.

Pada 2015 lalu, Nilam Sari, salah satu adik kami, berhasil menyabet juara III dalam perlombaan mewarnai se-Kota Medan. Ia berhasil tampil baik dengan tekad dan kemauan yang kuat untuk menjadi juara.

Lalu pada Agustus 2016, empat orang adik kami yang telah tamat SMA berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah kelautan. Julianto dan Muhammad Nazrin di Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan Jakarta, serta Lily Anggraini dan Rindu di Politeknik KKP di Sidoarjo. Mereka tadinya tak pernah terpikir untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

Masih di bulan yang sama, Perapung dipercaya menjadi fasilitator kunjungan Menko Maritim saat itu, Rizal Ramli. Ia datang meninjau keadaan masyarakat pesisir Belawan seraya memberikan bantuan sembako kepada masyarakat setempat. Kedatangannya juga kami manfaatkan untuk memberi motivasi pada anak-anak.

Kabar terbaru dari Kinanti. Pada 17 Oktober 2016 lalu,  Ia menjadi salah satu perwakilan dari Medan dalam kegiatan Festival Literasi Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Palu, Sulawesi Tengah. Kinanti berhasil menjadi finalis lomba membaca teks narasi. Dia bersaing dengan anak-anak hebat dari berbagai daerah di Indonesia.

Raihlah terus kesuksesan yang ingin kalian gapai adik-adikku. Capai segala cita-cita yang kalian punya. Kakak-kakakmu di Perapung akan terus bekerja, menjadi jembatan cakrawala anak-anak pesisir.

img_2162
Tak lupa mengabadikan kegembiraan bersama. Foto: dokumentasi Perapung.

 

Editor: Hanan Lubis

Yok bagikan!
Swidanty Annisa
About Swidanty Annisa 1 Article
Blue and coffee addicted. Sehari-hari mengajar Bahasa Inggris dan mengurus Perpustakaan Terapung. Gadis yang percaya jika ingin menjadi hebat maka buatlah orang-orang di sekelilingmu menjadi hebat.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?