Pelajaran Membaca Lewat Dunia Mereka

Belajar di luar kelas, menyenangkan! Foto: dokumentasi penulis.

Membaca dan menulis adalah dua dari empat aspek kebahasaan yang harus dikuasai setiap manusia. Jika seseorang tidak bisa membaca dan menulis maka dia akan mengalami kesulitan dalam menjalankan hidupnya.

Keyakinan itu saya dapati dari Rumah Baca Bakau. Taman bacaan masyarakat ini berada di Desa Percut, Kabupaten Deli Serdang, tempat tinggal kami. Komunitas ini memiliki misi untuk meningkatkan minat baca dan tulis anak-anak, demi memutuskan rantai buta aksara sejak dini.

Salah satunya lewat program Visual Literasi, sebuah metode pembelajaran yang mengutamakan fungsi visual anak. Mereka diajak belajar membaca dan menulis sesuai dengan apa yang tertangkap oleh indera penglihatan.

Cara ini kami lakukan untuk memudahkan mereka mengenal aksara. Banyak siswa SD yang sudah duduk di kelas empat, lima, hingga enam tapi masih terbata-bata membaca. Situasi yang akhirnya membuat sebagian adik-adik itu memilih berhenti sekolah karena kesulitan mengikuti pelajaran.

3
Anak-anak berinteraksi mengenal huruf. Foto: dokumentasi penulis.
5
Anak-anak belajar di mana pun berada. Foto: dokumentasi penulis.

Awal 2014 program ini bermula. Anak-anak belajar sambil bermain, bernyanyi dan bertualang. Mereka diarahkan untuk mengekspresikan diri sesuai kemampuan masing-masing.

Buku-buku yang ada di Rumah Baca Bakau kami manfaatkan sebagai bahan ajar. Cara ini juga untuk mendekatkan anak-anak dengan buku sehingga lama kelamaan mereka akan cinta pustaka.

Program Visual Literasi berlangsung selama enam bulan. Adik-adik itu kami bagi menjadi tiga kelompok belajar berdasarkan tingkat kemampuan membaca.

Grup A untuk anak-anak yang sama sekali belum mengenal aksara, belum dapat membaca dan menulis. Pelajaran mereka diawali dengan mengenal huruf kemudian membaca kata. Kata kami kenalkan lewat keseharian mereka. Saat belajar membaca “daun” misalnya, kami lakukan tepat di bawah pohon. Pemahaman langsung tercipta lewat realitas.

Grup B untuk anak-anak yang sudah mengenal huruf namun masih terbata-bata dalam membaca. Mereka biasanya belajar membaca kalimat melalui buku-buku cerita. Buku yang dibaca kami kaitkan dengan kehidupan sehari-sehari.

Sementara Grup C untuk anak-anak yang sudah bisa membaca dan menulis namun belum dapat memahami makna bacaan. Pada grup ini, mereka mulai belajar menulis puisi atau mengarang cerita.

2
Belajar kata daun dari menggambar daun. Foto: dokumentasi penulis.
4
Terkadang belajar tak perlu dinding, cukup semangat dan keinginan. Foto: dokumentasi penulis.

Tempat belajarnya jelas fleksibel. Kadang kami belajar di tepi muara. Hari lain di pinggir empang, pada sebuah halaman rumah, atau sesekali di atas perahu. Tak lepas dari dunia mereka, tempat bermain sehari-hari.

Setelah tiga tahun berjalan, hari ini anak-anak di kampung saya sudah bisa membaca saat mereka masuk SD. Rumah Baca Bakau pun makin ramai seiring meningkatnya minat baca anak-anak.

Masa kecil saya memang tak seberuntung mereka. Perkenalan dengan rumah baca baru berlangsung saat SMA. Bisa menemani mereka tumbuh seperti sekarang merupakan sebuah upaya kami, para pemuda Percut, mewujudkan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Editor: Hanan Lubis

Yok bagikan!
Maulida Yani
About Maulida Yani 1 Article
Mahasiswi Universitas Negeri Medan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Relawan Rumah Baca Bakau sejak 2012. Gadis pemimpi yang bertekad mendedikasikan dirinya untuk memajukan pendidikan bangsa Indonesia.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?