“Parbegu Ganjang” dari Balik Pusuk Buhit

Belajar budaya sejak dini. Dok: Rumah Belajar Sianjur Mulamula.

“Dikira aku Parbegu Ganjang gara-gara ini, Pra”.

Dua kali aku bertemu dengan dia, dua kali pula dia lontarkan kalimat itu. Begu ganjang, makhluk halus kepercayaan orang Batak yang dapat dipelihara. Raut wajahnya terlihat begitu kesal. Perjuangannya untuk melestarikan budaya leluhurnya melalui pendidikan, dianggap negatif oleh sebagian orang. Namun, ia tetap memilih maju.

Reinhard Sinaga. Pemuda berusia 28 tahun ini kerap mengikatkan ulos di kepala. Ia berasal dari Kampung Sipitu Dai, Kecamatan Sianjur Mulamula. Orang tuanya kemudian memberi nama tambahan menjadi Nagoes Puratus Sinaga.

Selama hampir satu tahun ini dia sibuk di Kampung Huta Balian, sekitar 8 km dari Sipitu Dai. Nagoes mendirikan Rumah Belajar Sianjur Mulamula di sana. Bersama sembilan orang teman, mereka menjalankannya secara sukarela.

14322620_550943918431135_5438469624304866963_n
Nagoes Sinaga, ketika mendampingi penyuluhan kesehatan. Dok: Rumah Belajar Sianjur Mulamula

Nagoes seorang perawat. Dulu Ia bekerja pada Rumah Sakit Martha Friska di Medan. Pekerjaan itu lantas Ia tinggalkan demi keinginan melestarikan budaya Batak yang kini makin tergerus zaman. Segala upaya sebenarnya pernah dilakukan Nagoes sebelum akhirnya mantap mendirikan rumah belajar.

“Adik-adik ini yang nanti meneruskan budaya kita, Pra,” katanya padaku. Ditemani kopi tubruk dan beberapa batang rokok, kami berbicara banyak hal tentang adat budaya dan mimpinya. Aku dan Nagoes duduk di selasar sebuah rumah panggung tua. Suatu pagi yang sejuk dengan pemandangan Pusuk Buhit yang menawan.

“Dulu aku bantu bersih-bersihkan sampah di kampung ini, Pra. Pokoknya, gimana biar aku bisa mendapatkan tempat di hati masyarakat ini.”

Niat baik itu mendapat banyak dukungan. Masyarakat desa memberikan mereka rumah secara percuma untuk menjadi ruang belajar. Segala isinya lalu didapat dari hasil iuran. Tak jarang masyarakat datang mengantarkan makanan kepada mereka.

Sebagai modal operasional, Nagoes dan teman-teman mendapat sepetak tanah. Hasil olahannya lalu digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah belajar. Melalui diskusi, rapat kampung, sosialisasi dan lainnya, mereka ingin rumah belajar itu tak hanya berguna bagi anak-anak, tapi sekaligus menjadi sumber pengetahuan bagi seluruh warga kampung.

Ia kemudian mengajak masyarakat sekitar untuk mengajar di tempat itu. Seorang guru honor di sekolah dasar dan seorang tokoh adat akhirnya setuju untuk meluangkan waktu dan tenaga mereka mengajar di rumah belajar.

Tempat ini pun lantas tak hanya diperuntukkan bagi anak-anak. Beberapa penyuluhan bagi warga kampung kerap berlangsung di sana. Terakhir mereka mengadakan penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan gigi bagi masyarakat kampung.

Kecamatan Sianjur Mulamula menjadi semakin terkenal setelah Dewi Lestari menjadikannya latar cerita di novel Gelombang. Ia disebutkan memiliki lembah hijau, sawah, hutan, dan udara segar. Sianjur Mulamula memang seindah itu.

Bagi orang Batak, Sianjur Mulamula memiliki sejarah sendiri. Konon di puncak Pusuk Buhit itu orang Batak pertama diturunkan oleh Debata Mulajadi Nabolon. Daerah ini lantas dikenal sebagai tempat bermula orang Batak.

12321594_470264486499079_5010750487203942618_n
Anak-anak di tengah lanskap Sianjur Mulamula. Dok: Rumah Belajar Sianjur Mulamula

Semangat ini yang ingin ditularkan Nagoes di rumah belajar itu. Ia berusaha mendekatkan adat istiadat Batak pada anak-anak sejak dini dan merefleksikannya dalam perilaku sehari-hari. Setiap orang yang masuk ke rumah belajar harus menggunakan sarung. Kata “horas” menjadi sapaan wajib jika bertandang, lalu lanjut menyalami tiap orang di dalam rumah.

Saban Sabtu anak-anak diajak mengenali budaya leluhur, mulai adat istiadat, kesenian, hingga struktur kekeluargaan. Pada hari lain mereka berlatih Mossak, beladiri Batak yang kini nyaris punah. Anak-anak itu disiapkan untuk menjadi pelindung akar budaya mereka.

Nagoes ingin kampung itu menjadi kampung adat. Bersama masyarakat, Ia memugar beberapa benda adat yang telah lama tertimbun tanah seperti Harbangan dan Losung. Ia juga memprakarsai festival adat di kampung itu pada September 2016 lalu yang dihadiri perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

17434585_635604453298414_7632726565808802726_o
Anak-anak berperan aktif dalam proses belajar. Dok: Rumah Belajar Sianjur Mulamula.
18057633_651089388416587_9186895704674209111_n
Banyak relawan yang singgah ke Rumah Belajar. Dok: Rumah Belajar Sianjur Mulamula.

Meski segala tindakan inilah yang dianggap aneh oleh sebagian orang, hingga muncul sematan begu ganjang. Nagoes sendiri memilih tak ambil pusing. Tekadnya untuk membangun kampung dengan ilmu pengetahuan melampaui segala cap negatif yang diberikan. Ia percaya tiap proses selalu membawa konsekuensi.

“Aku kesal ketika mendengar suara mobil ambulans pra. Orang-orang itu hanya mengantarkan bangkainya ke Bonapasogit (tanah leluhur) ini. Itu juga yang buat aku ingin pulang ke kampung sebelum jadi bangkai.”

Rumah Belajar Sianjur Mulamula kini menjadi Sekolah Adat Percontohan dari Kemendikbud. Jangkauannya pun meluas. Selain di Huta Balian, berdiri pula rumah belajar lain di Kampung Lumban Suhi. Anak-anak muda terus bergerak, ilmu terus mengalir. Aku percaya segala sesuatu bermula dari hal kecil. Dari tempat segala sesuatunya bermula, Sianjur Mulamula.

Editor: Hanan Lubis.

Yok bagikan!
Shandy Marpaung
About Shandy Marpaung 1 Article
Pemuda yang menyukai Blink 182 dan Glenn Fredly ini lahir dan besar di Medan, Sumatera Utara. Mengenyam pendidikan tinggi di Teknik Mesin USU selama lima tahun (6 bulan skorsing), Shandy bahkan tidak tahu apa pekerjaan otentik dari seorang sarjana teknik dan perbedaannya dari montir pinggir jalan. Sembari mencari tahu misteri terbesar dalam hidupnya itu, ia juga sedang mencari tahu letak kerajaan sorga yang dielu-elukan orang.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?