Museum Seni Medan Sebagai Alternatif Akhir Pekan

Apa saja sih alternatif wahana rekreasi masyarakat Kota Medan? Kemana dihabiskannya waktu senggang di akhir pekan? Kalau dilihat secara kasat mata, keramaian di akhir pekan biasanya tak jauh-jauh berada di berbagai pusat perbelanjaan yang ada di kota Medan. Antrian panjang kendaraan berisi keluarga keluarga yang ingin berbelanja, makan atau sekedar jalan-jalan. Tidak adakah pilihan lain?

Museum, wahana kota yang underrated!

Tentu ada banyak jawaban bagus dari pertanyaan barusan. Namun dalam tulisan ini saya hendak menawarkan suatu pilihan wahana yang bisa jadi menarik untuk dikembangkan menjadi salah satu adestinasi kota Medan yakni Museum Seni.  Kenapa Museum Seni? Pertama, mari melihat sekilas definisi kedua kata “museum” dan “seni” untuk sekedar tahu benda apa keduanya itu. International Council of Museum (ICOM) mendefinisikan museum sebagai berikut: A museum is a non-profit, permanent institution in the service of society and its development, open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates and exhibits the tangible and intangible heritage of humanity and its environment for the purposes of education, study and enjoyment.” Definisi tersebut dikutip langsung tanpa terjemahan agar tidak menciptakan bias dalam definisinya. Namun dapat disimpulkan bahwa museum sebagai sebuah institusi non-profit memiliki beberapa metode kerja dan yang paling penting untuk digarisbawahi bahwa tujuannya adalah sebagai sarana edukasi, penelitian dan kesenangan. Sedangkan seni memiliki banyak definisi yang kesemuanya cenderung mengarah pada satu definisi yakni seni sebagai suatu bentuk ekspresi manusia atau hasil kebudayaan yang biasanya identik dengan unsur keindahan.

Jika melihat definisi tersebut seharusnya dapat dilihat bahwa museum seni adalah sebuah fasilitas yang sangat menarik dimana ia mempelajari dan menampilkan kepada publik berbagai bentuk ekspresi manusia yang indah dengan tujuan yang begitu mulia. Namun faktanya nafas kehidupan museum di Medan — dan banyak kota lainnya di Indonesia, seolah hidup segan mati tak mau. Ada yang berpendapat bahwa masyarakat kita belum punya kesadaran atau ketertarikan untuk menikmati seni. Ada juga paradigma masyarakat yang melihat museum sebagai sebuah tempat yang membosankan, rumah bagi artefak-artefak dan hal-hal yang tidak mereka mengerti. Mungkin masyarakat mengamini bahwa museum adalah sebuah fasilitas yang edukatif, namun menyenangkan? Rasanya belum. Solusi untuk masalah ini mungkin dapat ditemukan melalui desain, dalam tulisan ini khususnya membahas dari sisi arsitektur.

cropped-Kawasan-Perancangan-2.jpg

Kawasan Merdeka yang Seksi

Perancangan Museum Seni di Kota Medan bisa dibilang adalah sebuah proyek perintis, hadir perdana di kota anda! Selain sebagai perintis, mungkin tidak berlebihan jika dikatakan sebagai sebuah perjudian karena tanpa didasari oleh permintaan pasar (demand), museum seni ini digagas justru untuk memicu semangat dan ketertarikan yang lebih besar, baik untuk para seniman maupun penikmat seni di kota Medan. Oleh sebab itu pemilihan lokasi perancangan harus prima karena akan sangat krusial, seperti pepatah lama yang mengatakan bahwa posisi menentukan prestasi. Museum Seni ini direncakan berada di Jalan Raden Saleh, berbatasan dengan Sungai Deli di sisi baratnya.

Lokasi ini dipilih karena berada di dalam sebuah kawasan yang kaya akan daya tarik kota: terdapat berbagai macam bangunan heritage yang signifikan; Lapangan Merdeka yang bersejarah; Stasiun Kota sebagai pintu gerbang kota; pusat pemerintahan Kota medan; dan berbagai pengembangan komersial baru berskala besar. Semua elemen ini memungkinkan kawasan ini dikembangkan sebagai sebuah kawasan walkable (yang dapat dinikmati dengan berjalan kaki) yang menyajikan berbagai daya tarik kota. Oleh sebab itu penempatan museum di dalam kawasan ini diharapkan dapat menciptakan nuansa baru di jantung kota Medan.

Ilustrasi Ruang Luar

Ilustrasi Massa Bangunan

Museum + Taman, menciptakan arsitektur yang mengundang

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa museum masih menjadi alien bagi kebanyakan masyarakat kita. Namun lain halnya dengan taman, si ruang terbuka publik yang tidak asing lagi bagi kebanyakan orang. Sebagai sebuah fasilitas yang (umumnya) gratis dengan rumput hijau dan pohon-pohon rindang, taman dapat menarik banyak orang untuk sekedar nongkrong di sela-sela waktu luangnya. Daya tarik taman dipinjam dengan cara mengintegrasikan museum dan taman. Bentuk integrasi yang diciptakan adalah dengan menciptakan ruang-ruang positif, mengembangkan area sisi sungai serta memanfaatkan sebagian bidang atap bangunan sebagai area publik yang dapat diakses dengan leluasa (baca: gratis). Dengan teknologi yang ada sekarang, menyulap atap bangunan menjadi sebuah taman hijau yang aktif tidak lagi mustahil. Alhasil, masyarakat kota dapat berkunjung tanpa harus punya ketertarikan terlebih dahulu terhadap museum melainkan sekedar untuk menikmati ruang terbuka tersebut.

Konsep Museum+Taman tersebut tidak serta merta berdiri sendiri. Ada elemen perekat yang memungkinkan terjadinya simbiosis komensalisme di antara keduanya – ketenaran museum akan semakin terangkat dan taman, yah dia sudah populer sejak lama. Elemen tersebut adalah sistem sirkulasi dan bentuk massa bangunan.

Pertama, mari membahas soal massa bangunan. Massa bangunan yang dibentuk berupa 3 box massa yang mengikuti struktur kota eksisting, di mana masing-masingnya memiliki fungsi yang berbeda, ruang seminar di sisi paling belakang, ruang eksibisi di tengah dan fungsi café dan toko souvenir di tempatkan pada sisi yang paling dekat dengan Jl. Raden Saleh. Namun fitur massa bangunan yang paling krusial mendukung konsep Museum+Taman adalah keberadaan rampa dan innercourt (ruang terbuka di dalam bangunan). Rampa berfungsi sebagai akses utama menuju taman yang berada di atap bangunan. Letaknya juga menjorok ke arah trotoar sehingga diharapkan dapat mengundang pejalan kaki yang lalu lalang untuk naik. Di sini sistem sirkulasi berperan, di mana pejalan kaki diundang untuk berbelok ke dalam museum, baik melalui rampa atau masuk ke dalam, dan mengalami ruang pengalaman yang direncanakan. Orang yang naik ke rampa akan dapat melihat ke dalam innercourt museum yang berfungsi sebagai ruang pameran outdoor. Dari situ ketertarikan orang yang sekedar lalu lalang hendak di bangun, di mana secuil konten museum yang disingkap itu dapat menarik orang untuk mencari tahu lebih jauh. Selain itu rampa juga akan mengarahkan orang menuju area tepi Sungai Deli yang dikembangkan sebagai area waterfront yang vibrant. Pada area tepi sungai disiapkan sebuah amphiteater yang dapat mewadahi berbagai penampilan seni atau pementasan dengan sungai sebagai latar belakangnya.

Ketika sudah masuk ke dalam museum, ceritanya lain lagi. Pengunjung museum akan disambut dengan ruang lobi, yang menghubungkan tiga fungsi utama yakni ruang seminar, ruang eksibisi dan area pendukung lainnya. Ruang eksibisi atau ruang pamer, yang merupakan fitur utama pada museum ini, dirancang dengan bentuk yang menciptakan sekuens pameran yang  terarah. Beberapa fitur pada masing-masing lantainya dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Denah-basement

    • Lantai Dasar (Lantai Satu)
    • Lantai dasar merupakan titik mula dari perjalanan di dalam museum. Seperti yang sudah dikatakan bahwa ruang lobi berfungsi sebagai penerima yang menghubungkan 3 fungsi utama tadi. Fokusnya ada pada area eksibisi yang berupa ruangan yang mengelilingi innercourt – area hijau yang menjadi domisili pameran outdoor. Ruang ini menjadi rumah untuk pameran permanen yang sifatnya memerkan kesenian yang kontekstual dengan kota Medan — dapat berupa pameran kesenian tradisional. Area ini diletakkan sebagai sajian pembuka agar pengunjung dipaksa untuk selalu mawas terhadap keberadaan kesenian tradisional tersebut.

lantai-2

    • Lantai Dua
    • Setelah puas berputar-putar di lantai dasar, pengunjung dapat naik ke ruang pamer di lantai 2. Karakternya masih berupa ruang sekuensial yang bentuknya memanjang dan membentuk loop. Benda-benda pamer ditempatkan pada satu sisi dinding dan pengunjung dapat menikmatinya dengan berada di sisi seberangnya, jadi berjalan di kanan dan benda pamer di kiri (atau sebaliknya). Pada lantai ini juga terdapat jalur sirkulasi sempit dengan jendela yang menghadap innercourt agar dapat menikmati benda yang dipamerkan outdoor tadi melalui perspektif yang berbeda.

denah-baru-lt.3

    • Lantai Tiga
    • Selubung ruang lantai 3 ini didominasi penggunaan material kaca u-profile double glaze (window) yang memungkinkan sinar matahari yang tersaring masuk ke dalam ruangan sebagai pencahayaan alami dan disisi lain juga meminimalisasi panas yang masuk. Sedangkan pada malam hari justru cahaya ruang dalam yang berpendar ke luar menciptakan efek massa bangunan yang berpendar.
    • Ruang Pamer
    • Kita berada di akhir perjalanan di museum ini, dimana ruang ini merupakan ruang pamer yang bersifat open plan, yang artinya berupa ruang besar yang melompong, sehingga menawarkan fleksibilitas untuk penataan susunan (layout) pameran. Jenis pameran yang diakomodasi ruang ini adalah pameran temporer yang sifatnya berubah-ubah sesuai program dari kurator dan pengelola museum.

Denah-lantai-1

  • Lantai Basement
  • Lantai basement menjadi area tempat parkir dan fasilitas yang tidak kalah penting yakni fasilitas instutional museum yakni ruang pengurus museum, laboratorium penelitan, ruang penyimpanan dan sebagainya. Penempatan di ruang basement terdengar menyedihkan namun jangan salah, area ruang kerja ditempatkan dengan tetap mendapatkan cahaya alami serta akses langsung terhadap ruang luar. Sedangkan ruang-ruang laboratorium dan penyimpanan memang dimaksudkan sebagai ruang tertutup dan terkontrol secara ketat.

 

Setelah puas berkeliling ruang pameran, kita dapat keluar dengan kepala yang terinspirasi oleh berbagai macam ekspresi keindahan manusia (baca: karya seni) lalu menikmati secangkir kopi dan makanan ringan di café museum atau berjalan-jalan lagi menikmati keindahan kawasan Merdeka yang menyediakan banyak daya tarik kota lainnya.

 

Catatan penulis: Perancangan Museum Seni ini merupakan karya yang dibuat dalam rangka memenuhi tugas akhir di dalam masa studi sarjana. Seiring bertambahnya pengalaman, penulis juga merasa ada kekurangan namun juga peluang untuk mengembangkan konsep perancangan ini menjadi semakin lebih baik. Demikian memang desain itu merupakan sebuah proses yang (jika tidak dihentikan pada satu titik) terus berlanjut. Semoga paparan mengenai konsep perancangan ini dapat menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan lingkungan kota dan arsitekturnya yang lebih baik.

Yok bagikan!

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?