Mimpi yang Bergerak Bersama Kareta Pustaka

Kehadiran kareta pustaka selalu dinanti anak-anak. Sumber foto: dokumentasi Kareta Pustaka.

“Tiada sesuatu yang baru di bawah pancaran sang surya. Tetapi tidak semua diketahui orang. Hanya orang yang mengenal tata hidup dunia lain, sekalipun hanya melalui bacaan, dapat menilai tatahidup dunianya sendiri”

(R.A. Kartini dalam Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Sadja)

Andilo Simamora, ia bermimpi mendirikan sebuah rumah baca di pesisir Tapanuli Tengah. Tak hanya di darat, mimpi itu juga ingin dia apungkan dalam ayunan gelombang Samudra Hindia. Mimpi yang berawal dari keresahannya melihat anak-anak terjebak dalam sempitnya cakrawala kotak ajaib yang digerakkan internet atau permainan grafis yang disewa per jam. Dia ingin anak-anak lebih dekat dengan jendela dunia. Mengajak mereka turut bermimpi, jauh lebih luas dari hamparan Pantai Pandan.

Mewujudkan niat yang terbesit sejak tujuh tahun silam  tentu tidak mudah. Tapi, bukankah perwujudan mimpi selalu dimulai dari sebuah langkah pertama? Akhirnya bersama Kareta Pustaka, Andilo  menarik tali gas pertamanya pada Februari lalu. Melaju di atas roda dua, berteman buku-buku, dia mengitari Tapanuli Tengah.

Melalui bukulah Andilo ingin mengeluarkan anak-anak itu dari zona nyamannya. Mengajak mereka bertualang melalui bacaan. Belajar memecahkan masalah, berpikir kritis, bermimpi besar, mengambil risiko, namun tetap ingat untuk memberi kembali atas setiap ilmu yang mereka miliki.

Hadir di tujuh desa  secara rutin Andilo menyapa anak-anak setiap dua minggu sekali. Bukan hanya menyediakan buku bermutu yang dapat dibaca gratis, Andilo juga mengajak mereka melakukan keseruan lain. Di hari istimewa seperti Hari Anak misalnya, Kareta Pustaka mengajak anak-anak menggambar dan mewarnai bersama, serta lomba menyanyikan lagu nasional.

kareta-pustaka-1

Dalam sembilan bulan usianya, Kareta Pustaka mulai mendapatkan tempat di hati anak-anak  dan akan ‘kena marah’ bila tidak datang. Tapi, antusiasme yang demikian itu ternyata belum mendapat apresiasi yang cukup dari para orang tua. Ada saja kecurigaan dalam benak mereka.

 “Jangankan mendorong anak-anak untuk membaca, orang tua malah memanggil anaknya yang sedang membaca untuk masuk ke rumah sampai anak-anak tidak mau membaca lagi dan akhirnya kami harus pindah lapak”, tutur Andilo.

Bahkan, di awal perkenalannya dengan anak-anak, Kareta Pustaka dikira penjual buku keliling. Tapi apalah arti tantangan itu dibandingkan dengan keteguhan Andilo dengan kedua rekannya, Wales Simanjuntak dan Yeni Rahmawati.  Mimpi mereka sudah kadung besar dan menjalar ‘liar’.

Roda kareta harus terus berputar. Mereka masih ingin melihat perpustakaan berdiri di setiap desa yang pernah mereka  singgahi, memiliki jumlah buku yang memadai agar dapat mereka pinjami. Dan tentu saja mengajarkan anak-anak akan indahnya seni dan arifnya tradisi sampai akhirnya roda mereka tak lagi melaju sendiri tapi konvoi.

Teruslah bergerak Kareta Pustaka. Menyebar mimpi, di setiap sudut Tapanuli Tengah.

Editor: Odelia Sinaga

Yok bagikan!
Irma Sihite
About Irma Sihite 2 Articles
Mengaku bahwa dirinya telah diwakafkan untuk Negara sebab telah menjadi siswa negeri mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan akhirnya bekerja pun sebagai pegawai negeri. Ia penikmat buku dan kopi, khususnya arabika lintong yang dikirim langsung dari tanah kelahirannya Dolok Sanggul.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?