Menikmati Indie ala Degilzine

Suatu hari di bulan Juli 2017 mungkin jadi salah satu hari paling penting bagi perkembangan seni dan musik Indie di Medan. Beberapa anak muda Medan gerah akan pemberitaan yang Jakarta sentris dan minimnya wadah berkesenian di Medan. Tak banyak cakap, beberapa bulan kemudian yaitu Oktober 2017, Degilzine pun lahir.

Dalam bahasa slang Medan, Degil berarti keras hati, menunjukkan niat Degil untuk mendobrak status quo. Didirikan oleh beberapa anak muda pemberontak di Medan, termasuk pentolan musik indie Medan, seperti Tengku Ary dari Au Revoir, Albert Simanungkalit dan Leo Sihombing dari Selat Malaka, Rio Sihombing dan Adrian Sinaga dari Psychotic Villager, Aga dari Depresi Demon, dan pemerhati seni lainnya yaitu Edacitra, Ina, Kafka, Gepe, Densky9, Kibo, dan Ghostdzilla. Awalnya Degil fokus pada karya-karya musik Indie namun perlahan berkembang mewadahi pergerakan literasi dan seni. Sampai saat ini, setidaknya sudah puluhan tulisan terbit di website degilzine.com dan tiga edisi zine cetak diluncurkan.

 

Acara rilisan fisik Degilzine edisi ke-3: “Hippies”, di Teras Benji. Sumber foto: dokumentasi Degilzine

 

Acara Opening Degilhouse 21 Juli 2018. Sumber foto: dokumentasi Degilzine.

Konten Degilzine terasa spontan, blak-blakan namun gampang dicerna layaknya gaya tutur orang Medan. Entah itu bicara soal Pramoedya, hari ibu hingga fenomena ngopi, para penulis Degilzine menjabarkan ide-ide liar mereka tanpa menggurui. Rasa-rasanya seperti mendengar kawan bercakap di warung kopi.

Tak cukup hanya dengan website dan zine, Degilzine kini telah menyewa satu rumah di Jl. Sei Silau, Selayang, Medan untuk dirombak jadi Degilhouse. “Kami menyebutnya creative space, bukan working space, karena kami mau fokuskan di kreatifnya, bukan kerjanya”, tambah Citra Nasution, editor Degilzine. Degilhouse memiliki ruang yang dapat digunakan lebih banyak komunitas di Medan yang ingin berjejaring dan berkreasi melalui diskusi ataupun pertunjukan musik.

 

 

A post shared by Degil House (@degilhouse) on

 

Bosan dengan koleksi bukumu yang itu-itu aja? Degilhouse juga memiliki perpustakaan dengan koleksi buku non-fiksi hingga roman, dari Sartre, Tan Malaka hingga Leo Tolstoy dan Pramoedya Ananta Toer. Selain itu, bagi pengunjung yang ingin bersantai menikmati hari, Degilhouse sediakan cafe dengan sajian khusus teh. “Lagi-lagi, karena kami merasa para pecinta teh belum punya wadah sebesar para pecinta kopi di Medan,” kata Citra.

Semua aktivitas Degilzine didasari oleh keyakinan bahwa seni memiliki makna dan fungsi yang lebih dari sekedar seni. Lebih jauh, seni dianggap mampu mewakili pesan-pesan mereka yang terpinggirkan. “Bagi kami, seni adalah keberpihakan,” tandasnya lagi.

Degilzine mewawancarai band Navicula ketika tur ke Medan 15 Juli 2018. Sumber foto: dokumentasi Degilizine

 

Degilizine kerap diundang ke berbagai acara diskusi. Sumber foto: dokumentasi Degilzine

Memang benar, semangat itu diperlihatkan dengan keuletan Degilzine mengorbitkan seniman dan musisi indie di Medan bahkan nasional. Tak hanya itu, Degilzine kini membentuk Sirkam (Sirkulasi Literasi Perempuan), wadah diskusi dan kelas berbagi yang secara khusus membahas isu-isu perempuan.

Sejarah jurnalisme di Indonesia tak bisa dilepaskan dari kota Medan. Di kota inilah surat kabar “Benih Merdeka” lahir lebih dari 100 tahun lalu. Surat kabar itu menjadi pertama di zamannya yang berani mengusung kata Merdeka sebagai bentuk perlawanan terhadap status quo, penjajahan. Semoga dengan hadirnya Degilzine, semakin banyak “media perlawanan” tumbuh kembali di Medan dan memberi warna baru di tengah bisingnya cuap-cuap ibu kota. Tabik!

*
Tertarik berkontribusi bersama Degilzine? Kirimkan emailmu ke degilzine@gmail.com. Degilzine membuka ruang bagi kontributor tulisan, ilustrasi atau video yang degil dan dimabuk hasrat berkarya. Jangan pula ketinggalan bersantai sembari mencicipi sajian teh terbaik di Degilhouse Creative Space – Tea and Books – Guest House, di Jalan Sei Silau No 50/54 Medan Selayang, Medan, Sumatra Utara.

Mateus Situmorang

Mateus Situmorang

Mateus lahir di Balige, kuliah di Bandung dan bertarung di Jakarta. Sempat singgah ke Rote dan terpesona akan lezatnya tuak manta. Kini sedang menyusun rencana untuk berkeliling Indonesia dan, syukur-syukur, dunia.

More Posts

Yok bagikan!
Mateus Situmorang
About Mateus Situmorang 3 Articles
Mateus lahir di Balige, kuliah di Bandung dan bertarung di Jakarta. Sempat singgah ke Rote dan terpesona akan lezatnya tuak manta. Kini sedang menyusun rencana untuk berkeliling Indonesia dan, syukur-syukur, dunia.

1 Comment

Bagaimana pendapatmu?