Mengumpan Bacaan di Kampung Nelayan

Serunya berkreasi bersama anak-anak. Sumber foto: dokumentasi Pondok Belajar Arnilla

Kelas hari ini berakhir tepat pukul 11.30 WIB. Kuliah pagi yang selalu kusenangi karena bisa beranjak pergi sebelum tengah hari. Aku bergegas keluar kampus, berjalan ke arah Simpang Sambas, berdiri di pinggir Jalan Sisingamangaraja. Angkot bernomor 81 yang kutunggu. Daihatsu Espass berwarna hijau dengan perpaduan putih di kedua sisi. Gambar jangkar melekat di pintu kanan kiri menandakan dari mana ia berasal: Belawan, kota pelabuhan di utara Medan.

Perjalanan ke Belawan memakan waktu sekitar satu jam. Teriakan pinggir secara refleks keluar dari mulutku saat melihat Tugu Pahlawan. Aku harus turun di sini. Perjalanan berlanjut dengan jalan kaki sekitar 500 meter sampai dermaga. Aku menaiki salah satu perahu, menyeberang sekitar 10 menit, hingga menjejakkan kaki di Kampung Nelayan.

Namaku Arnila Melina, mahasiswa semester tujuh Fakultas Kedokteran UISU. Selama tiga hingga empat kali seminggu perjalanan yang sama kulakoni. Aku tidak sedang mengerjakan tugas kuliah atau menjalankan praktik lapangan. Tujuanku hanya bertemu anak-anak. Mereka yang setiap kudatang selalu berkumpul di sebuah rumah panggung sederhana. Bangunan dengan penopang kayu itu didominasi jendela kawat pada bagian depan dengan aksara warna warni yang tertempel. Huruf-huruf itu membentuk tiga kata, Pondok Belajar Arnila.

Di pondok ini lah kami merangkai cita-cita kami. Sumber foto: dokumentasi Pondok Belajar Arnilla

Semua bermula pada pertengahan 2014. Aku datang untuk membagikan buku “Ketika Alam Membisu”. Tulisanku tentang hubungan manusia dan alam yang tak lagi harmonis. Buku ini memang ditujukan bagi anak-anak dan Kampung Nelayan menjadi salah satu tujuan penyebarannya.

Ngapain sih ngasih aku buku. Aku kan gak bisa baca.”

Kalimat itu keluar dari mulut Wahyu, seorang siswa kelas 3 SD. Aku tertegun. Apalagi setelah mengetahui ketidakbisaan membaca di sini rupanya merata. Salah satu yang kutemui bahkan sudah duduk di kelas 2 SMP.

Kenyataan ini memotivasiku untuk melakukan sesuatu. Aku datang lagi beberapa hari kemudian. Kali ini mengajak seorang teman kuliah. Kami mendapat izin membuka kelompok belajar setelah bertemu kepala lingkungan setempat. Sore itu kelas baca mulai berlangsung di halaman musala.

Selama hampir setahun kelas berlangsung di surau itu. Anak-anak datang semakin banyak. Ada sekitar 40 orang saat itu yang selalu datang. Aku membagi kelas siang dan sore. Belajar baca tulis bagi usia SD di kelas pertama dan anak-anak SMP dengan pelajaran lebih tinggi pada kelas selanjutnya.

Hingga datang tawaran dari orang tua Wahyu untuk menggunakan lahan miliknya. Bu Nurhayati, ibu Wahyu, membolehkan lahan seluas satu kavling yang berada di sebelah rumah mereka itu untuk dibangun Pondok Belajar. Ia ingin kedua anaknya bisa membaca.

Kami mulai menyicil bahan bangunan. Tugasku membeli berbagai keperluan di toko material, sedang para warga menjadi pelaksana proses pembangunan. Gotong royong ini berlangsung sekitar 10 bulan.  Cukup lama untuk sebuah bangunan sederhana. Tapi aku menikmati betul segala upaya yang kami jalani ketika itu.

Ada empat kampung di wilayah seberang ini. Selain Kampung Banjar yang menjadi tempat kami belajar, ada Kampung Tengah, Kampung Karang Taruna dan Sebuah SD dan SMP swasta menjadi tempat sebagian mereka menempuh pendidikan formal, meski guru-guru yang mengajar sering kehilangan muridnya dari ruang kelas.

Banyak relawan yang turut bergabung dalam pondok belajar ini. Sumber foto: dokumentasi Pondok Belajar Arnilla
Betapa asyiknya anak-anak ketika belajar. Sumber foto: dokumentasi Pondok Belajar Arnilla

Tantangan terbesar dialami SMP Nahdlatul Ulama, perguruan yang baru berdiri dua tahun belakangan.  Para pengajar sekolah itu sering mengajakku menjemput siswa ke kampung-kampung lain. Aku menyambutnya sambil menyeru lebih banyak anak lagi ke Pondok Belajar.

Tapi hasil yang didapat justru sebaliknya. Beberapa orang tua tak rela anak mereka lebih pilih belajar daripada bekerja. Anak-anak itu biasanya ikut mencari ikan ke laut. Mereka pulang membawa tambahan penghasilan keluarga. Sementara belajar? Manfaatnya tak langsung terasa.

“Ujung-ujungnya dia nelayan juga, ngapain lagi dia sekolah.”

Ujaran beberapa orang tua yang selalu kuingat. Penolakan ini menyadarkanku pada berbagai tantangan selanjutnya. Ada realitas lain dalam kehidupan di sini yang selama ini tak terlalu kuperhatikan. Aku terlalu fokus pada Pondok Belajar tapi melupakan akar masalah yang sebenarnya, tentang falsafah “yang penting hari ini punya uang”.

Setiap hari agaknya orang-orang berjerih payah mencari uang untuk membeli makanan dan kesenangan. Duit sering kali habis dalam waktu singkat, sementara pendidikan tak sempat mendapat tempat. Tak banyak warga memiliki keinginan seperti orang tua Wahyu.

Perkara lain adalah sebagian anakku kini sedang ketagihan bermain internet. Ada beberapa warnet yang membawa mereka mengenal dunia maya. Aneka rupa cerita facebook sering kudengar dari percakapan anak-anak. Mendapat kenalan orang baru hingga mulai ngajak bertemu. Belum lagi yang terjangkit game online. Pengusaha warnet menyediakan waktu 24 jam bagi mereka.

Kondisi ini berpengaruh secara langsung pada Pondok Belajar. Jumlah anak-anak yang datang semakin berkurang. Kini tinggal 20-an saja yang masih aktif. Mayoritas usia sekolah dasar.

Kabar baiknya, beberapa relawan mulai mendaftar untuk ikut mengajar. Ada 10 orang yang terdata, meski mereka belum hadir rutin. Jarak yang cukup jauh dari pusat kota hingga macam-macam kesibukan menjadi alasan. Aku pun masih terus belajar menjalankan komitmen suka dan rela.

Aku sendiri masih menjalani rutinitas yang sama di sela-sela pengerjaan skripsi. Bagiku pondok ini merupakan hadiah bagi kedua orang tuaku di Bengkalis. Itulah alasan mengapa aku menamainya Arnila, namaku sendiri.

Sesekali saat akhir pekan aku bermalam bersama anak-anak di Pondok Belajar. Kami sedang memulai pendekatan baru, membangun rasa percaya dan saling terbuka untuk mengungkapkan apapun.

Sebuah proses tak mengenal batas waktu. Meski penolakan masih sering kuterima, segala upaya ini tak boleh berhenti.

Wahyu sering bilang padaku, “Walaupun sekarang gak bisa baca, tapi aku mau terus belajar.”

Kalimatnya yang terus meringankan langkahku menanti angkot 81.

 

Editor: Odelia Sinaga

Catatan: Tulisan berdasarkan hasil percakapan penulis dengan Arnila Melina, penggagas Pondok Baca Arnila

Yok bagikan!
About Khairil Hanan Lubis 3 Articles
Suka makan dan jalan-jalan. Pencinta Kinantan sejak dalam pikiran.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?