Mengenal Sejarah Gerakan Global Melalui Awaken Festival 2016

Live mural yang turut menyemarakkan festival. Sumber foto: dokumentasi panitia.

Suasana Don Burgero Cafe Medan malam itu riuh. Orang-orang berpakaian ala 60-an memenuhi kursi-kursi yang disediakan. Panggung musik di tengah ruangan menyatukan mereka.  Lantunan dari Hello Benji and The Cobra, Selat Malaka, dan Filsafatian terus mengudara.

Itulah suasana Hari pertama Awaken Festival 2016. Kegiatan yang digelar komunitas Suara Bhinneka ini berlangsung selama tiga hari, sejak Kamis, 30 September hingga Minggu, 2 Oktober lalu. Flower Generation: Make Love Not War menjadi tema pada hari pertama.

“Acara ini untuk meningkatkan kesadaran dalam isu-isu sosial, serta untuk berkesenian secara kreatif demi kepentingan sosial yang lebih kolektif,” terang Yuri Nasution, Program Director Suara Bhinneka.

Gelaran ini mengajak anak muda Medan untuk memahami sejarah pergerakan sosial dan seni, sekaligus memperbarui isu-isu sosial yang tengah berkembang. Lewat beragam aksi seni dan diskusi, Yuri berharap Awaken Festival bisa merangkul berbagai kalangan di kota itu untuk melahirkan beragam aksi positif.

Salah satu yang menarik adalah pemilihan era 60-an, 90-an, dan 2000-an sebagai tema.

awaken-festival-2016-pertunjukan-band
Salah satu pertunjukan band di Awaken Festival. Sumber foto: dokumentasi panitia.

Temanya adalah gerakan kaum muda dari beberapa era yang berpengaruh secara global, dan Suara Bhineka memilih era 60an, 90an, dan 2000an. Kurun 60an dipandang identik dengan era gerakan penolakan perang yang berdampak lahirnya kaum hippies dan pemuda yang mempopulerkan slogan “Make Love Not War” dalam setiap aksinya.

Sedangkan era 90-an merupakan masa kejenuhan terhadap kultur musik major label yang menghasilkan para pemusik anti label rekaman besar. Sementara periode 2000-an adalah zamannya teknologi internet yang menyebabkan berbagai gerakan dan komunitas independen tumbuh subur.

Berbagai kalangan di Medan ikut memeriahkan acara. Dian Purba, Sakti Prima, Ranto Sibarani, Nola Pohan, Rizky Nasution, dan Santus Sitorus menjadi pengisi talkshow secara berganti selama tiga hari.  Selain para grup musik di panggung seperti Jere Fundamental, Lorong Waktu, Depresi Demon, TBRX, WINA, Lini Masa, dan Recok!, ada pula pertunjukan puisi oleh Rimbun Kata, koleksi foto Imaji, pameran foto oleh Andi Gultom, serta live mural oleh Fedricho Purba, Pakcoceng, dan Matimuda.

awaken-festival-2016-panitia-pelaksana
Panitia dengan kostum 60-an. Sumber foto: dokumentasi panitia.

Suara Bhinneka adalah sebuah komunitas dengan fokus memperkenalkan isu-isu sosial kepada anak muda Kota Medan melalui media seni dan ruang kreatif. Sebelumnya mereka pernah mengadakan Pemutaran Film Pulau Buru Tanah Air Beta di Kedai Boogie dan diskusi Keperempuanan di Roda Tiga Cafe.

Yok bagikan!

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?