Membaca dari Kaki Gunung Sibualbuali

Anak-anak memperlihatkan bakat menarinya di Festival Sopo Poda. Sumber foto: dokumentasi Sopo Poda.

Kegiatan membaca telah menjadi kegiatan manusia sejak terciptanya huruf. Tulisan didokumentasikan ke dalam bentuk naskah kuno maupun buku dan kitab. Manusia terbiasa membuat kegiatan membaca menjadi aktifitas sehari – hari. Tulisan merangsang imajinasi melalui kata per kata dan menghasilkan karya untuk menunjang kehidupan manusia.

Namun dengan berkembangnya teknologi dewasa ini, peminat baca semakin menurun, khususnya bagi anak – anak. Mereka lebih memilih menonton televisi atau permainan elektronik yang akhirnya mengurangi aktivitas baca. Gundah dengan fenomena ini, Raja Aman Siregar dan istrinya Melani Rahmi Siagian mulai mencari solusi. Apalagi minat baca di kampung mereka, Desa Parau Sorat, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, tergolong rendah. Maka pada tanggal 29 Desember 2014, Taman Baca Sopo Poda berdiri.

Aktivitas membaca di Sopo Poda. Sumber foto: dokumentasi Sopo Poda.

Taman baca ini berada di kaki Gunung Sibualbuali. Raja merelakan rumahnya dipenuhi rak buku di kiri kanan dan menjadi kelas bersama. Kebanyakan buku tentang sains, agama dan budaya. Para pembacanya dari segala umur, datang dari Desa Pagaran Batu, Pangkal Dolok, hingga Panggulangan.

Pasangan suami istri ini mendirikan Sopo Poda sebagai cara mereka mengabdi pada kampung halaman. Raja seorang pegawai swasta, sementara Melani bekerja di salah satu lembaga bahasa di Kota Medan. Di sela-sela kesibukan itu, mereka terus merangkul masyarakat sekitar agar memiliki andil dalam menghidupkan rumah baca ini. Harajaon Ni Napa – Napa Sibualbuali, yang merupakan ketua adat di sana, bahkan ikut hadir saat acara peresmian.

Keterlibatan itu pun terlihat dalam jajaran pengelola Sopo Poda. Ada Bahrun Pohan, guru SD Parau Sorat, lalu Nelly, guru PAUD TK Satu Atap, Ummi Siregar, pegawai Kantor Desa Parau Sorat, serta Ridho Siregar, berkebun.

Mereka membuka taman baca ini pada pukul 14.00 hingga 17.00 WIB tiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Membaca buku, berlatih bahasa Inggris, serta tadarus saat Ramadhan.

 “Kami selalu buka, walau ada atau tidak ada yang datang ke sini,” kata Ummi.

Saat merayakan ulang tahun pertama pada Desember tahun lalu, mereka menggelar Festival Sopo Poda 2015 selama dua hari. Berbagai lomba digelar untuk mengasah kreativitas anak-anak. Membaca puisi, bercerita, mewarnai, manortor, hingga memasak masakan tradisional, Itak Pohul-Pohul. Semua kalangan masyarakat ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.

sopo-poda-4
Keseruan lomba memasak di Festival Sopo Poda. Sumber foto: dokumentasi Sopo Poda
sopo-poda-3
Anak-anak terlibat lomba di Festival Sopo Poda. Sumber foto: dokumentasi Sopo Poda.

Pada Agustus 2016 lalu, mereka mendapat penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional. Gelar ini menyebut Raja dan Melani sebagai tokoh masyarakat yang peduli terhadap pengembangan perpustakaan dan kegemaran membaca.

 “Kami sangat bersyukur dengan prestasi yang diraih. Namun kami masih sangat berharap adanya bantuan untuk penambahan jumlah dan jenis buku di taman baca ini, karena anak–anak sangat senang sekali datang ke sini,” pungkas Ummi.

Dengan semboyan “Kami Membaca Dunia dari Kaki Gunung Sibualbuali”, Sopo Poda memulai tradisi baru dalam keseharian masyarakat di Sipirok: mengonsumsi pustaka.

Editor: Hanan Lubis

Yok bagikan!

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?