Ide Jadi Aksi

Sopo Nametmet bergerak dalam senyap. Dok: Elisabeth Samosir

“Negara kita tidak akan pernah kekurangan orang baik.”

Pernyataan ini sering kali terdengar. Biasanya kudapat dari para pejabat atau orang-orang yang masih punya rasa optimis pada negara ini.  Pertama aku mendengarnya biasa saja, tapi semakin kulihat dan rasakan, ia sebuah fakta. Aku tak akan berani mengatakan pernyataan ini benar apabila tak melihat dan merasakannya langsung. Biar tak dibilang hoax, kawan! Hahaha.

Realitas ini kudapat ketika di Sumatera Utara, kampung halamanku, semakin banyak orang baik dan peduli yang menginisiasi berdirinya taman baca. Awalnya, aku yakin hanya berupa ide, pikiran, atau gagasan yang muncul di pikiran mereka. Tapi semakin dipikirkan, semakin terbebani untuk menjadikan ide itu nyata, dapat dirasakan, dan bermanfaat. Ide itu berbuah menjadi aksi.

Mereka tidak membangun taman baca dengan bangunan megah, kokoh, dan dilengkapi dengan tata ruang bergaya arsitek kekinian. Tidak, kawan! Taman baca yang dibangun sederhana, berada di tengah pemukiman tapi nyaman layaknya sebuah rumah. Taman baca ini berdiri atas dasar ketulusan, kepedulian, dan kebutuhan. Itulah yang membuatnya mampu memikat hati anak-anak, karena memberikan kenyamanan bagi mereka.

Salah satunya Sopo Na Metmet. Taman baca ini terletak di Desa Sukamulia, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematang Siantar. Lokasinya berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPA). Alasan sang penggagas, Afriani Sinaga, mendirikan di lokasi tersebut karena sebagian orang tua yang mayoritas bekerja sebagai pemulung dan tukang sapu jalanan masih belum menyadari peran penting pendidikan. Kehadiran Sopo Na Metmet di sana mampu memberikan kesejukan baru untuk anak-anak dan orang tua. Sekitar 50 anak telah bergabung untuk belajar, bermain, dan melukis masa depan mereka.

Sopo Nametmet tampak muka. Dok: Elisabeth Samosir
Keceriaan anak-anak yang mendapat donasi buku. Dok: Elisabeth Samosir

“Dengan berbagi kepada mereka, saya juga belajar untuk lebih peduli dengan sesama, dengan bertindak nyata,” ujar Sarjana Pendidikan Matematika FKIP ini.

Lain halnya dengan cerita taman baca yang bergerak. Unik memang taman baca satu ini. Taman baca ini bergerak dengan motor atau kareta (bahasa Batak dari motor) bernama Kareta Pustaka. Pada Februari 2016, Andilo, sang penggagas, mulai menarik tali gas pertamanya. Melaju di atas dua roda, berteman buku-buku, mengitari Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Hidup adalah proses perjuangan. Begitulah kira-kira kata orang bijak. Andilo pun harus berjuang untuk mendapat penerimaan dari masyarakat. Tidak semua orang tua memberikan apresiasi atas niat baiknya ini. Kecurigaan entah mengapa selalu ada di atas niat tulus dan mulia. Tapi bukankah ketulusan, kebaikan, itu yang akan selalu menang? Tantangan berupa penolakan tidak lantas mengurungkan niat Andilo untuk terus berjuang. Karena mimpinya sudah kadung besar dan menjadi ‘liar’.

“Kareta Pustaka akan terus bergerak, menyebar mimpi di setiap sudut Tapanuli tengah.”

Sepenggal kisah dua taman baca di atas hanya sedikit dari gagasan yang telah dihasilkan para penggerak di Sumatera Utara. Mereka jarang terdengar karena bergerak dalam sunyi. Pada benak mereka, selalu terbersit sebuah kalimat, “Bagaimana agar taman baca mereka terus ada, diterima masyarakat, dan bermanfaat bagi anak-anak di sekitarnya.” Sesederhana itu.

Pergerakan dan perjuangan mereka dalam sunyi akhirnya masuk dalam radar Tim Kede Sumut. Sepuluh taman baca yang digagas oleh para penggerak ini sedikit bukti dari banyaknya orang baik yang mau peduli dan berjuang untuk anak-anak di Sumatera Utara. Kesepuluh taman baca tersebut adalah Pondok Belajar Arnila, Perpustakaan Terapung, Sekolah Pintar, Rumah Baca Bakau, Sopo Na Metmet, Sianjur Mula Mula, Cerdas Ceria, Ramoti Humbahas, Sopo Poda, dan Kareta Pustaka.

Perjalanan mereka pun berbeda-beda, begitu juga dengan alasan dan latar belakang dari para pejuang dibaliknya. Tapi satu persamaan mereka, menghidupi ide dalam pikiran menjadi sebuah aksi nyata. Hasilnya? Sangat bermanfaat walaupun harus terus berproses dalam perjalanannya.

Tak sedikit yang telah memberikan apresiasi atas tindakan nyata mereka. Salah satunya Rumah Baca Bakau pada 2014 misalnya, mendapat penghargaan TBM Kreatif dan Reaktif se-Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu komentar mendukung atas aksi para penggagas mulai terdengar.

Rahung Nasution, salah satu putra daerah asal Desa Sayurmatinggi, Batang Angkola, Tapanuli Selatan mengatakan dengan semakin banyaknya taman baca atau rumah belajar di Sumut berarti telah ada insiatif untuk memberantas buta huruf.

“Tidak hanya buta baca tulis tapi juga buta wawasan,”  ujar pembuat video dokumenter Pulau Buru Tanah Air Beta

Ahhh, bagaimana Indonesia tidak bersyukur memiliki para pejuang di daerah ini. Mereka yang menjadi salah satu ujung tombak negara bagi kemajuan di desa-desa. Mereka berjuang untuk melengkapi kebutuhan daerahnya dengan sebuah gerakan, membangun taman baca. Para penggagas inilah yang nantinya menjadi modal bagi Indonesia, khususnya Sumatera Utara agar berdaya dan mandiri atas semua wilayah miliknya.

Seperti kata Penyair Widji Thukul,
“Aku berpikir tentang gerakan tapi mana mungkin kalau diam”.

Editor: Hanan Lubis

Yok bagikan!
Odelia Sinaga
About Odelia Sinaga 3 Articles
Odelia Sinaga lahir di Medan dan besar di Balige, Sumatera Utara. Merantau ke Jawa untuk mengejar mimpinya menjadi jurnalis. Pernah bertualang ke Sangihe dan menoreh sejarah di Tempo. Kini sedang bersiap untuk melangkah lebih jauh.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?