Gerakan Solutif Dinamis, Warnai Pendidikan di Kabupaten Samosir

Keceriaan bersama di Rumah Belajar Sianjur Mula-Mula. Sumber foto: dokumentasi penulis.

Karena mendidik adalah tugas orang-orang terdidik.

Anies Baswedan

 

Bicara tentang pendidikan maka sebagian besar masyarakat akan mengatakan itu adalah tanggung jawab guru, kepala sekolah, dan orang tua. Sangat jarang mereka yang berada di luar tiga pihak tersebut dengan gagah berani mengatakan “Ya, tanggung jawab saya juga”.

Tapi itu dulu kawan …

Sekarang kita dapat melihat semakin banyak gerakan atau komunitas positif yang bergerak di bidang pendidikan. Hal ini berarti semakin banyak orang peduli, tergerak, dan bersedia turun langsung untuk ikut hadir menyambut dunia pendidikan.

Seorang sahabat pernah menuliskan “Indonesia tidak butuh satu gerakan masif yang terstruktur, melainkan jutaan gerakan kecil yang dinamis dan solutif”. Coba kita renungkan pernyataan ini. Kata kuncinya adalah “Jutaan gerakan kecil yang dinamis dan solutif”. Dan itulah yang sedang terjadi sekarang ini.

Akan tetapi tak dapat dipungkiri juga, sebagian orang mungkin akan mengatakan atau berpikir gerakan kecil dinamis dan solutif ini hanya ada di kota besar, di kota pendidikan, atau di kota dengan tingkat pendidikan dan pendapatan tinggi.

Ternyata tidak. Salah satu faktanya, di Provinsi Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Samosir telah berdiri beberapa gerakan kecil dinamis dan solutif. Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar Yayasan Alusi Tao Toba. Yayasan yang digagas oleh Bang Togu Simorangkir ini memberikan suasana baru bagi pendidikan di Samosir. Melalui Sopo Belajar, anak-anak dapat mengekspresikan diri dengan berbagai pengetahuan. Salah satu Sopo Belajar yang telah berdiri terletak di daerah Lotung.

Sopo Belajar di Lotung, Samosir. Sumber foto: dokumentasi penulis.
IMG_2436
Bentuk kreativitas masyarakat dalam mencerdaskan anak bangsa. Sumber foto: dokumentasi penulis.

Tak hanya Sopo Belajar. Ada juga Rumah Belajar Sianjur Mula Mula yang terletak di Lumban Tonga-Tonga Pardugul Buhit, Samosir. Rumah Belajar ini telah beroperasi sejak 4 bulan lalu di mana telah memikat hati sekitar 80 anak. Rumah Belajar ini digagas oleh beberapa anak muda yang peduli dengan keadaan pendidikan di Samosir.

“Saya berharap anak-anak di sini bisa lebih pintar dan juga punya karakter, seperti sopan dalam bersikap”, ujar Sodugaon Sitanggang salah satu pengurus di Rumah Belajar Sianjur Mula Mula.

Bicara tentang kesopanan, rumah belajar ini memiliki keunikan. Semua orang yang akan masuk ke rumah belajar, baik kakak pengurus dan anak-anak harus mengenakan sarung. “Sarung memang tidak identik dengan budaya Batak. Tapi dengan sarung, anak-anak belajar sopan dalam berpakaian,” kata dia.

Gerakan-gerakan kecil seperti rumah belajar ini ternyata juga dapat memikat hati para relawan. Relawan dari berbagai latar belakang dengan rela hati meluangkan waktu untuk saling belajar dan berbagi dengan anak-anak. “Saya senang bisa berada di sini. Bermain dan belajar dengan anak-anak. Mereka anak-anak hebat”, ujar Mary Jane, relawan asal Balikpapan.

Jutaan gerakan kecil dinamis dan solutif, itulah yang dibutuhkan saat ini. Dibutuhkan oleh daerah-daerah yang menginginkan ada kemajuan pendidikan di daerahnya. Jutaan gerakan kecil ini juga yang menumbuhkan semangat dan keterlibatan para relawan untuk saling berbagi, saling berkolaborasi.

Semua harapan dan semangat ini untuk siapa? Dengan suara lantang dapat kita katakan bersama untuk anak-anak Indonesia, untuk para penerus bangsa dari Sumatera Utara. Sukses tak terhingga untuk gerakan kecil seperti Rumah Belajar Sianjur Mula Mula dan Sopo Belajar di Lotung. Semoga semakin berkembang semakin bertumbuh!

Salam Indonesia! Horas!

Yok bagikan!
Odelia Sinaga
About Odelia Sinaga 3 Articles
Odelia Sinaga lahir di Medan dan besar di Balige, Sumatera Utara. Merantau ke Jawa untuk mengejar mimpinya menjadi jurnalis. Pernah bertualang ke Sangihe dan menoreh sejarah di Tempo. Kini sedang bersiap untuk melangkah lebih jauh.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?