Galeri Budaya Batak TB Silalahi Center

Karya seni Batak di era globalisasi ini kurang mendapat perhatian lebih dari masyarakat, terutama kaum muda di tanah Batak sendiri. Penulis yang juga berdarah Batak memperhatikan perkembangan seni budaya di tanah Batak masih kurang. Padahal, tanah Batak memiliki segudang potensi seni budaya disamping keindahan alamnya yang begitu memukau, seperti seni ukir gorga, kain tenun ulos, tari-tarian 6 sub etnik Batak, dan arsitektur rumah tradisional.

Seni dan budaya Batak harus dilestarikan untuk menjaga potensi pariwisata tanah Batak, kelangsungan adat-istiadat orang Batak, serta secara luas menjaga identitas bangsa Indonesia. Kelemahan dalam menjaga kelestarian ini ketika kaum muda tak mampu lagi menghadapi perkembangan jaman yang begitu dinamis dan modern. Akibatnya, seni budaya Batak perlahan-lahan akan hilang karena sudah dianggap tidak menarik lagi. Salah satu caranya adalah terus menerus berpikir kreatif untuk menciptakan inovasi baru dalam menciptakan karya seni yang modern (kontemporer) tetapi tidak menghilangkan makna budayanya. Inovasi (dan juga semangat berinovasi) yang dimaksud inilah yang belum terlihat di tanah Batak.

Padahal sudah ada beberapa perantau berdarah Batak yang berhasil menciptakan terobosan baru mengemas seni budaya Batak lebih menarik. Salah satu contoh orang yang telah membuktikan hal tersebut adalah Merdi Sihombing. Merdi Sihombing adalah salah satu perancang busana yang berfokus pada pengembangan busana modern berbasis budaya tekstil tradisional seperti batik, songket, ulos. Kedua adalah Viky Sianipar yang sudah terkenal sebagai salah satu komposer musik di tanah air, terutama aransemen musik tradisional Batak. Viky menciptakan nuansa baru dari musik tersebut namun tetap menjaga makna dari setiap lagu yang di aransemen. Dan yang ketiga adalah Bapak TB Silalahi. Beliau sudah dikenal sebagai tokoh nasional dan sekaligus tokoh masyarakat Batak. Beliau mendirikan bangunan Museum Batak di kawasan TB Silalahi Center, Balige, Sumatera Utara, yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2011 lalu. Museum ini dibangun atas dasar keprihatinan TB Silalahi terhadap masyarakat yang kurang memperhatikan nilai-nilai sejarah Batak. Bangunan yang dirancang oleh tim arsitek Rekamatra tersebut terlihat begitu modern dibandingkan museum pada umumnya di tanah Batak. Filosofi desain juga mengambil unsur-unsur budaya Batak seperti ukiran gorga pada Jabu (rumah tradisional Batak). Museum ini berfungsi untuk memamerkan sekaligus menyimpan artefak-artefak kuno peninggalan masyarakat Batak zaman dulu. Ketiga sosok diatas berhasil merangsang ide Penulis untuk menciptakan sebuah “wadah” di tanah Batak yang mampu menumbuhkan semangat masyarakat terutama kaum muda Batak untuk terus ber inovasi.

2

Berhubung Museum Batak TB Silalahi Center berada di tanah Batak, Balige, Penulis memilih kawasan tersebut sebagai lokasi perancangan wadah dan juga harus bisa melengkapi fungsi Museum TB Silalahi Center. Menurut Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera Tahun 2005, strategi pengembangan kota Balige kedepannya akan diarahkan sebagai kota yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan wilayah provinsi yang mendorong potensi produksi pertanian, industri, dan pariwisata. Secara khusus dalam draft Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2011-2031 disebutkan peruntukan lahan kawasan Museum Batak TB Silalahi Center sebagai wisata budaya. Berdasarkan aturan tersebut, pemilihan lokasi sudah sesuai dengan peruntukannya.

Atas dasar tersebut diatas, Penulis akhirnya memutuskan untuk merancang Galeri Budaya Batak yang berfokus memfasilitasi setiap aktivitas seni budaya Batak kontemporer, seperti :

1. memamerkan hasil karya seni Batak kontemporer (kain ulos, seni ukir, lukisan, dan fotografi) dengan aman,

2. mewadahi kegiatan seni dan budaya Batak, seperti penampilan berbasis seni budaya, workshop seni ukir, tenun ulos, dan seni lukis dengan ruang terbuka dan sirkulasi yang lebar.

Kenapa Galeri? Karena Galeri tidak membatasi benda koleksi yang akan dipamerkan, sehingga ini bisa menjadi momen baik untuk memamerkan hasil karya seni budaya Batak yang berbeda pada waktu-waktu tertentu. Sedikit berbeda dengan Museum Batak yang isi pamerannya cenderung tetap dan lebih difokuskan untuk menambah koleksi artefak kuno. Adanya Museum Batak dan Galeri Budaya Batak ini akan melengkapi semangat dan wawasan masyarakat terhadap seni budaya Batak khususnya generasi penerus di tanah Batak.

8

maket-1-

Ketika Galeri Budaya Batak sudah dibangun, maka para pengunjung terutama kaum muda Batak tidak lagi kesulitan untuk melihat bagaimana ulos ditenun, bagaimana cara melukis dan mengukir gorga, serta memahat patung (B). Pada area mini amphitheater (D), pengunjung dapat duduk dan berkumpul. Jika beruntung, ada beberapa orang Batak yang sudah memendam keinginannya untuk bernyayi, bisa disaksikan penampilannya di area tersebut. Tersedia juga fasilitas penunjang seperti toko buku (C) yang lengkap untuk menambah wawasan pengunjung seputar budaya Batak tempo dulu sampai inovasi di jaman modern ini. Pada bangunan yang sama, ada toko souvenir (C) yang menjual hasil karya seniman Batak, atau bahkan hasil karya pengunjung/ kaum muda Batak yang telah mengikuti kelas workshop singkat. Ketika rasa lelah sudah muncul, pengunjung juga diberi fasilitas kafetaria (E) yang menyajikan masakan khas Batak sambil menikmati pemandangan Danau Toba.

maket-4

maket-5--

maket-6--

Pada bangunan utama galeri (G), pengunjung akan disuguhkan dengan berbagai macam hasil karya seni kontemporer Batak dan inovatif, misalnya patung sigale-gale dari bahan metal/ bahan-bahan daur ulang, busana formal dengan motif ulos, alat musik tradisional Batak dari bahan-bahan bekas, dan lain-lain. Dari luar bangunan utama, kita bisa turun ke sculpture garden (I) menikmati pameran hasil karya seni pahat berupa patung kayu, batu, metal, plastik, dan lain sebagainya. Pada area paling depan Galeri Budaya Batak ini adalah area khusus menikmati pemandangan Danau Toba (J). Pengunjung bisa mengabadikan momen dengan cara apapun yang sedang nge-trend masa ini. Di bawah viewing deck (J) tersebut terdapat fungsi ruang kantor pengelola serta kamar penginapan seniman. Kantor pengelola dan kamar penginapan seniman diletakkan tersembunyi agar pengunjung tidak bisa masuk ke area ini dan privasi juga bisa terjaga.

Pengelolaan Galeri Budaya Batak juga menjadi hal yang penting untuk kelancaran dan keberlanjutan aktivitas di masa mendatang. Nantinya, akan ada pameran rutin dengan tema tertentu setiap bulan. Teknik promosi dibuat sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi canggih masa kini. Pengelola juga giat mencari seniman-seniman Batak baik dari tanah Batak maupun para perantau untuk membuat sebuah acara diskusi atau seminar serta mengundang kaum muda Batak sebagai peserta seminar. Bisa juga secara terbuka memberi kesempatan dan mengajak kaum muda Batak untuk mengadakan “pesta seni” setiap triwulan serta mengajak masyarakat berpartisipasi mengikuti acara tersebut. Di acara itu mereka bisa memamerkan hasil karya seni buatan mereka sendiri, melakukan workshop, serta menampilkan musik di area viewing deck berlatar belakang pemandangan Danau Toba.

Waktu operasional Galeri Budaya Batak adalah setiap hari, jam 09.00 – 18.00 WIB, kecuali untuk acara-acara tertentu masih dibuka sampai acara selesai. Untuk proses penataan benda-benda pameran semuanya dilakukan saat jam tutup agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung. Benda-benda pameran disimpan di tempat yang tidak dapat dijamah oleh pengunjung (dibawah Plaza (F)) serta memiliki pembagian ruang berdasarkan jenis pameran untuk memudahkan pengambilan benda pamer.

Satu hal yang masih bisa kita banggakan di negeri pertiw adalah KEBUDAYAAN

-Yusup Oeblet-

 

 

 

 

 

 

Yok bagikan!

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?