Dinginnya Penantian di Tigaras

Hujan terus membasahi tanah Tigaras, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Tidak terasa lebih dari tiga hari kami tidur di dalam tenda. Tiga hari pula lamanya punggung kami dipijat oleh cadasnya batu-batu, di atas tanah lembab di bawah tikar. Nikmat. Rasanya seperti dalam spa yang elite. Tepat berada di muka dermaga Tigaras, kami dirikan tenda yang menjadi rumah sementara kami. Sementara posko gabungan Basarnas untuk pencarian korban KM Sinar Bangun terletak di dermaga pelabuhan Tigaras.

Di dalam tenda ini, ada belasan orang mengistirahatkan tubuhnya. Dinginnya hembusan angin harus kami acuhkan. Selimut pun harus berbagi. Yang menarik adalah, tidak ada dari satu pun diantara kami yang terganggu dengan aroma tubuh sesama teman kami yang tidak pernah mandi sejak tiba Sabtu, 23 Juni 2018.

“Hmmmm, tetap bisa dinikmati.” Itulah yang kami katakan.

Sebab bagi kami, kenikmatan itu relatifTidak ada bedanya kenimatan yang kami rasakan sekarang dengan nikmat tempat tidur empuk di dalam kamar yang hangat yang dimiliki oleh Bupati Simalungun, Bupati Samosir dan orang penting yang lainnya.

Tapi tidak dengan keluarga korban yang bertahan di dermaga Tigaras. Tua dan muda, lansia dan anak-anak bersama merasakan dinginnya lantai sebuah gedung kantor terminal pelabuhan dengan terus berharap sanak keluarganya dapat ditemukan segera setelah delapan hari pencarian dilakukan.

Kondisi pengungsi di posko. Foto: dokumentasi penulis.
Beramai-ramai menunggu kabar di posko. Foto: dokumentasi penulis.

Satu-dua orang teman coba mencari rumah di sekitar dermaga Tigaras untuk dipinjam bayar agar keluarga korban bisa direlokasi ke tempat yang lebih leluasa, tapi hasilnya tidak ada rumah yang bisa kami gunakan.

Mungkin kami terlalu lambat sampai di lokasi. Karena rumah atau bangunan sekitar dermaga sudah ada merk-nya masing-masing. Dari lembaga swadaya masyarakat, perusahaan swasta dan negara, lembaga agama tertentu, hingga komunitas politik tertentu.

Tapi sayangnya, di saat krusial begini, tetap tidak bisa menjadi “rumah bersama” bagi setiap orang keluarga korban yang menanti kabar dari tim SAR.

Ada kabar yang bilang kurang selimut, ada yang bilang kurang pembalut, ada yang bilang kurang makanan. Tapi menurutku mereka tidak kurang itu semua. Yang mereka butuhkan adalah kabar baik tentang ditemukannya anggota keluarga mereka dan kejujuran tentang situasi yang terjadi kenapa keluarga mereka tidak sesegera mungkin diselamatkan ketika peristiwa nahas itu terjadi.

Sudah hari ke delapan, kabar belum juga mereka dapatkan. Menurutku, hanya itu yang menjadi selimut hangat mereka selama di Tigaras.

 

*****

Selama tiga hari di Tigaras, relawan GMKI melaksanakan Ibadah doa bersama keluarga korban. Juga penyalaan lilin solidaritas bersama masyarakat dan keluarga korban yang ada di lokasi sebagai bentuk solidaritas dan dukungan kpd keluarga korban.

Relawan juga diminta untuk membantu dapur umum yang dikelola oleh TNI dan Dinas Sosial. Selain itu, relawan turut memberikan bantuan berupa selimut, tikar, dan kaos kaki kepada keluarga korban yang menginap di Posko Terpadu. Bantuan ini merupakan dukungan dari berbagai pihak yang tidak dapat hadir namun selalu mendukung dan mendoakan keluarga korban dan proses pencarian yang masih berlangsung.

Martin Siahaan

Martin Siahaan

Pria asal Riau ini kini menjabat Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan Pengurus Pusat GMKI. Memiliki motivasi mengabdi untuk kemanusiaan.

More Posts

Yok bagikan!
Martin Siahaan
About Martin Siahaan 1 Article
Pria asal Riau ini kini menjabat Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan Pengurus Pusat GMKI. Memiliki motivasi mengabdi untuk kemanusiaan.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?