Belajar di Sekolah Pintar

Siap belajar bersama! Sumber foto: dokumentasi Sekolah Pintar.

Tahun 2005 Darma Yanti berangkat ke Malaysia. Ia bekerja di Johor Bahru untuk membantu ekonomi keluarga. Sempat pulang setelah bekerja dua tahun, Yanti merantau lagi ke Melaka. Kali ini motivasinya beda: mengumpulkan dana untuk mengajar baca.

Percut bukan kawasan tempat tinggal Yanti. Daerah pesisir itu hanya Ia kunjungi saat bertandang ke rumah Atoknya. Ia tinggal di Tembung, Medan bagian timur. Tapi kunjungan ke sana selalu berkesan. Anak-anak kerap berkumpul saat Ia datang, antusias menyambut orang baru. Kesenangan Yanti menjadi getir kala tahu sebagian dari mereka rupanya tak lagi sekolah.

Rumah sewa Atok Ia beli sepulang dari negeri seberang. Niat awalnya meringankan beban keluarga. Ide lain muncul ketika Yanti kembali bertemu dengan anak-anak di sana.

Kelen mau gak kalau nanti kakak ajarin baca?”

Persetujuan mereka menjadi dorongan bagi Yanti untuk mengumpulkan dana. Ia kembali menjadi buruh migran di negeri tetangga, bekerja pada sebuah pabrik chip di Malaka hingga  2010. Selang setahun kemudian berdirilah Sekolah Pintar.

“Aku ingin mereka semua menjadi pintar,” terangnya.

Mereka mulai belajar di rumah panggung tempat tinggal Atok. Bangunan itu berada di Dusun 18, Desa Percut. Wilayah ini secara administratif berada di Kabupaten Deli Serdang, namun hanya berjarak sekitar 15 km dari pusat Kota Medan. Tak terlalu jauh bagi Yanti untuk pulang pergi dari rumah.

Sandungan terbesar justru datang dari lingkungan anak-anak. Orang tua mereka lebih senang melihat anak-anaknya membantu cari uang. Saat itu ada sekitar delapan anak yang dikenal Yanti tak melanjutkan sekolah dasar. Memulai kebiasaan belajar berarti mengurangi pendapatan mereka. Bukan perkara mudah.

“Sering waktu itu pas lagi belajar orang tuanya datang. ‘Bagus kelen cari kepiting, cari udang, daripada di sini’ kata mereka.”

Kegiatan belajar sambil bermain yang Yanti tawarkan mulai berhasil memikat. Pendidikan nonformal bagi mereka menjadi selingan menarik di antara penatnya sekolah formal. Iuran yang dia terapkan 1000 rupiah per hari juga menambah ramai peserta studi. Sekolah ini sering disepelekan sebelumnya karena gratis. Meski berjalan, iuran ini tak menjadi kewajiban. Yanti tetap membuka kelasnya bagi siapa pun yang datang tanpa uang.

1
Manisnya belajar bersama anak-anak di Sekolah Pintar. Sumber foto: dokumentasi Sekolah Pintar.

 

Kini setelah lima tahun bergerak, Sekolah Pintar tak lagi jadi penyeling. Pagi diperuntukkan bagi siswa PAUD, siang untuk anak-anak SD sepulang mereka sekolah, dan malam buat yang ingin belajar sambil mengerjakan tugas.  Mereka belajar baca tulis, wawasan agama, serta membuat berbagai keterampilan. Jumlah yang terdaftar sekitar 120 anak. Yanti pun memutuskan pindah tinggal di sana.

Kesadaran masyarakat mulai tumbuh saat pendidikan mulai terasa bermanfaat. Seorang warga pernah tercengung saat melihat anaknya membacai isi koran dengan suara keras. Padahal biasanya siswa SD pun belum tentu fasih mengeja aksara. Aksi bocah lima tahun itu meningkatkan kepercayaan masyarakat Sekolah Pintar. Meski belum semua orang tua mendukung, panggilan “mencari kepiting” kini tak pernah lagi dialami Yanti.

Dukungan dari berbagai pihak juga mengalir. Sebuah bangunan pendopo dan musala telah berdiri sejak awal tahun. Ia membaginya menjadi taman baca dan ruang belajar. Pembagian materi juga sering terjadi dengan Rumah Baca Bakau. Kedua lembaga pendidikan ini berada di desa yang sama.

Yanti pun tengah berusaha menyelesaikan kuliah. Ia duduk di semester VII untuk meraih Sarjana Bimbingan Konseling Islam di STAI Al-Hikmah. Gairah anak-anak pesisir melecut semangatnya untuk melanjutkan pendidikan.

                                   “Selama semua ini membawa kebaikan, akan saya perjuangkan.”

 

Editor: Odelia Sinaga

Yok bagikan!
About Khairil Hanan Lubis 3 Articles
Suka makan dan jalan-jalan. Pencinta Kinantan sejak dalam pikiran.

Be the first to comment

Bagaimana pendapatmu?